Tampilkan postingan dengan label ILMU BIOLOGI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ILMU BIOLOGI. Tampilkan semua postingan

SISTEM RESPIRASI PADA IKAN

Oleh: Erdiansyah
Alat respirasi adalah alat atau bagian tubuh tempat 02 dapat berdifusi masuk dan sebaliknya C02 dapat berdifusi keluar. Alat respirasi pada hewan bervariasi antara hewan yang satu dengan hewan yang lain, ada yang berupa paru-paru, insang, kulit, trakea, dan paru-paru buku, bahkan ada beberapa organisme yang belum mempunyai alat khusus sehingga oksigen berdifusi langsung dari lingkungan ke dalam tubuh, contohnya pada hewan bersel satu, porifera, dan coelenterata. Pada ketiga hewan ini oksigen berdifusi dari lingkungan melalui rongga tubuh.

Pernapasan juga merupkan salah satu kebutuhan yang sangat mendasar bagi kehidupan seekor ikan. Ikan harus mendapatkan supply oksigen yang cukup di dalam jaringannya agar dapat melepas energi melalui oksidasi lemak dan gula. Energi yang terlepas dipergunakan untuk kegiatan tubuh didalam menjalani masa kehidupannya.

Lumba-Lumba

Ikan hanya dapat hidup di air dan mempunyai alat pernapasan yang khusus. Ikan bernapas dengan insang yang terdapat pada sisi kanan dan kiri kepala Insang berbentuk lembaran-lembaran tipis berwarna merah muda dan selalu lembap. Bagian terluar dare insang berhubungan dengan air, sedangkan bagian dalam berhubungan erat dengan kapiler-kapiler darah. Tiap lembaran insang terdiri dare sepasang filamen, dan tiap filamen mengandung banyak lapisan tipis (lamela). Pada filamen terdapat pembuluh darah yang memiliki banyak kapiler sehingga memungkinkan OZ berdifusi masuk dan CO2 berdifusi keluar. Insang pada ikan bertulang sejati ditutupi oleh tutup insang yang disebut operkulum, sedangkan insang pada ikan bertulang rawan tidak ditutupi oleh operkulum.

Insang tidak saja berfungsi sebagai alat pernapasan tetapi dapat pula berfungsi sebagai alat ekskresi garam-garam, penyaring makanan, alat pertukaran ion, dan osmoregulator. Beberapa jenis ikan mempunyai labirin yang merupakan perluasan ke atas dari insang dan membentuk lipatan-lipatan sehingga merupakan rongga-rongga tidak teratur. Labirin ini berfungsi menyimpan cadangan 02 sehingga ikan tahan pada kondisi yang kekurangan 02. Contoh ikan yang mempunyai labirin adalah: ikan gabus dan ikan lele. Untuk menyimpan cadangan 02, selain dengan labirin, ikan mempunyai gelembung renang yang terletak di dekat punggung.

Morfologi Bentuk Insang
Pada prinsipnya ada dua macam bentuk isang, yaitu :
1.      Insang yang mempunyai tutup insang, misalnya teleostei.
2.      Insang yang tidak memiliki tutup insang, misalnya selachii. Pada selachii ini arcus branchiallis mempunyai lanjutan yang panjang dan ujungnya melengkung disebut sebagai : septum interbranchiale.
Mekanisme pernafasan pada teleostei dapat dibedakan menjadi dua fase yaitu :
·         Fase inspirasi : pemasukan oksigen ke dalam alat pernapasan. Fase ini dapat terjadi apabila tekanan cavum oris lebih kecil dari pada tekanan di luar.
·         Fase ekspirasi : proses pelepasan udara dari alat pernafasan kea lam sekitarnya. Fase ini dapat terjadi apabila tekanan dalam cavum oris lebih besar dari pada tekanan di lingkungan luar.

Oleh karena pada golongan selachii tidak mempunyai tutup insang maka mekanisme pernafasan golongan ikan tersebut dilakukan dengan cara memperbesar atau memperkecil cavum oris dengan jalan menurunkan atau menaikkan dasar mulut.

Untuk beberapa ikan membutuhkan alat bantu pernafasan, ada beberapa macam alat bantu pernafasan, yaitu :
1.      labyrinth : merupakan rawan yang berlipat-lipat seperti bunga mawar yang mengandung epithelium pernafasan. Terletak dalam suatu kantong di daerah derso lateral pre operculum. Misalkan terdapat pada ikan Tricogaster sp, Halostoma sp, Anabas sp.
2.      amborescene : merupakan bangunan yang berbentuk seperti pohon yang terletak pada bagian atas lengkung insang kedua dan ketiga. Misalnya pada ikan Clarias sp.
3.      diverticula : terletak pad daerah pharynx. Misalnya pada ikan Ophiocephalus sp.

Gelembung Renang
Gelembung renang pada ikan berwarna keputih-putihan. Secara umum gelembung renang ikan terdiri dari dua rongga. Tetapi ada juga jenis ikan yang sulit ditemukan gelembung renangnya. Bentuk gelembung renang pada setiap jenis ikan cukup bervariasi. Bahkan diantara kedua rongga itu bisa juga bervariasi seperti halnya pada ikan mas (Cyprinus carpio) rongga bagian anterior lebih besar dari pada rongga bagian posterior. Tetapi ada juga yang bagian posterior lebih besar dari pada bagian anterior contoh pada ikan tawes (Puntius javanicus).

Pada beberapa jenis ikan, pneumatocyv mempunyai hubungan dengan esophagus dengan perantara suatu saluran yang disebut sebagai : ducus pneumaticus. Berdasarkan ada tidaknya ducus pneumaticus ini maka ikan dapat digolongkan menjadi dua golongan yaitu :
·         Physostomy, yaitu golongan ikan yang mempunyai ducus pneumaticus
·         Physoclisti, yaitu golongan ikan yang tidak mempunyai ducus pneumaticus

Golongan ikan yang tidak mempunyai ducus pneumaticus, pemasukan dan pengeluaran udara ke dalam pneumatocyt dilakukan oleh suatu bangunan yang terdapat pada bagian muka atas dari dinding pneumatocyt yang disebut macula rubra. Macula rubra ini berupa anyaman pembuluh darah yang disebut sebagai rate mirabile.

Gastropoda

Jika Anda pergi ke pasar, jangan heran apabila dijumpai banyak penjual siput dan bekicot. Karena ternyata jenis hewan ini sangat digemari masyarakat dan bergizi tinggi. Nah, bagaimana dengan Anda, pernahkan makan siput (Lymnea) dan bekicot (Achatina)? Kedua hewan ini adalah jenis hewan kelas Gastropoda. Jenis hewan ini juga ada yang hidup di laut, air tawar dan banyak pula yang hidup di darat. Gastropoda merupakan kelas Mollusca yang terbesar dan populer. Ada sekitar 50.000 jenis/spesies Gastropoda yang masih hidup dan 15.000 jenis yang telah menjadi fosil. Karena banyaknya jenis Gastropoda, maka hewan ini mudah ditemukan.

Sebagian besar Gastropoda mempunyai cangkok (rumah) dan berbentuk kerucut terpilin (spiral). Bentuk tubuhnya sesuai dengan bentuk cangkok. Padahal waktu larva, bentuk tubuhnya simetri bilateral. Namun ada pula Gastropoda yang tidak memiliki cangkok, sehingga sering disebut siput telanjang (vaginula). Hewan ini terdapat di laut dan ada pula yang hidup di darat.

Kenapa hewan ini disebut Gastropoda? Gaster artinya perut, dan podos artinya kaki. Jadi Gastropoda adalah hewan yang bertubuh lunak, berjalan dengan perut yang dalam hal ini disebut kaki. Gerakan Gastropoda disebablan oleh kontraksi-kontraksi otot seperti gelombang, dimulai dari belakang menjalar ke depan. Pada waktu bergerak, kaki bagian depan memiliki kelenjar untuk menghasilkan lendir yang berfungsi untuk mempermudah berjalan, sehingga jalannya meninggalkan bekas. Hewan ini dapat bergerak secara mengagumkan, yaitu memanjat ke pohon tinggi atau memanjat ke bagian pisau cukur tanpa teriris.

RHIZOBAKTERIA

Rhizobakteria - merupakan kelompok bakteri yang hidup dan berkembang di daerah rizofer tanaman.  Kelompok rhizobakteria ini diketahui dapat merangsang pertumbuhan tanaman sehingga produksi tanaman dapat meningkat.  Hellriegel dan Wilfarth (1889) merupakan peneliti pertama yang melaporkan manfaat dari kelompok bakteri ini dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman kacang – kacangan, sejak saat itu berkembanglah penelitian – penelitian untuk mencari mikroorganisme yang dapat meningkatkan produksi tanaman
RHIZOBAKTERIA
Beberapa kelompok bakteri yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produksi tanaman adalah : (a) Rhizobium (bakteri penambat N2yang bersimbiosis dengan kacang – kacangan, (b) Azotobakter, Azospirillum (bakteri penambat N2yang tidak bersimbiosis dengan tanaman, (c) Bacillus subtilis, B. polymixa (bakteri penghasil senyawa yang dapat melarutkan fosfat tanah), (d) Clostridium dan (e) Pseudomonas fluorescens dan P. putia.
Beberapa  keuntungan dengan memanfaatkan kelompok mikroorganisme ini adalah : (a) tidak mempunyai bahaya atau efek sampingan, (b) Efisiensi penggunaan  yang dapat ditingkatkan sehingga bahaya pencemaran lingkungan dapat dihindari, (c) harganya yang relatif murah, dan (d) Teknologinya yang sederhana. Pemanfaatan kelompok mikroorganisme ini telah diterapkan di negara – negara maju dan beberapa negara berkembang.
Potensi penggunaan rhizobakteria sebagai inokulan telah banyak mendapat perhatian dari pakar mikrobiologi tanah dan penyakit tanaman, karena sifat dari rizobakteria ini sangat agresif dalam mengkolonisasi akar menggantikan tempat mikroorganisme yang dapat menimbulkan penyakit pada tanaman. 
Hubungan antara tanaman dan mikroorganisme terjadi di daerah rizosfer,  mikroorganisme dapat hidup dari substrak yang dikeluarkan oleh tanaman melalui akar ataupun tanaman yang mati, disamping itu dapat juga merangsang pengeluaran unsur hara dari akar, dapat menghasilkan senyawa – senyawa yang mempercepat pertumbuhan.

PENGERTIAN MALARIA

Malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh plasmodium dan ditularkan kepada manusia melalui vector nyamuk anopheles. (Harijanto, 2000)

Penyakit malaria adalah penyakit menular yang disebabkan oleh parasit plasmodium antara lain plasmodium malariae, plasmodium vivax, plasmodium falciparum, plasmodium ovale yang hanya dapat dilihat dengan mikroskop yang ditularkan oleh nyamuk malaia (anopheles)/, penyakit malaria dapat menyerang semua orang baik laki-laki maupun perempuan, pada semua golongan umur (dari bayi, anak-anak, sampai dewasa), apapun pekerjaannya, penyakit malaria biasanya menyerang yang tinggal didaerah yang mempunyai banyak genangan air yang sesuai untuk tempat perkembangbiakan nyamuk malaria seperti persawahan, pantai, perbukitan dan pinggiran hutan (Depkes RI, 2004).

Menurut Departemen Kesehatan RI tahun 2003 malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh beberapa parasit plasmodium yang hidup dan berkembang biak dalam sel darah merah manusia dan penyakit ini secara alami ditularkan melalui gigitan nyamuk anopheles betina. Penyakit malaria adalah salah satu penyakit yang menular, penyakit parasit yang hidap dalam sel darah manusia yang ditularkan melelui nyamuk malaria dari penderita malaria kepada orang lain, penyakit malaria dapat menyerang kelompok umur dan semua jenis kelamin.

Malaria adalah suatu penyakit yang ditandai oleh rasa dingin dan badan menggigil, suhu badan meningkat dan denyut nadi cepat (Nadesul, 1995).

Penyebab dan Manifestasi Penyakit Malaria
Penyebab
Malaria merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh plasmodium malariae yaitu parasit yang hidupnya merusak dan memakan sel-sel darah manusia, parasit tersebut adalah parasit malaria yang termasuk dalam genus plasmodium
Ada empat jenis penyebab penyakit malaria (Nadesul,1995) yaitu:
1.      Plasmodium falciparum penyebab malaria tropica yang dapat menebabkan malaria ota dengan akibat penderita menjadi gila atau miningga dunia.
2.      Plasmodium vivax penyebab malaria tertiana, yang dapat menyebabkan pembengkakan pada limpa.
3.      plasmodium malariae penyebab malaria quartana yang dapat menimbulkan ganggua pada ginjal dan pembengkakan yang sangat besar pada limpa
4.      Plasmodium ovale penyebab malaria ovale, malaria jenis ini tergolong ringan dan dapat sembuh dengan sendirinya tanpa diobati.

Manifestasi Klinis Malaria
Gejala penyakit malaria dipengaruhi oleh daya pertahanan tubuh penderita, jenis plasmodium malaria serta jumlah parasit. Gambaran khas dari penyakit malaria adanya demam yang periodic, pembesaran limpa (splenomegali) dan anemia (turunnya kadar hemoglobin dalam darah).
Gejala utama malaria adalah demam, pada infeksi malaria demam secara periodic berkaitan dengan pecahnya skizoit matang

KULTUR MASSAL SKELETONEMA


A. MEDIA
  1. Air laut steril dengan salinitas 28 - 31 dimasukkan kedalam wadah yang telah steril.

  2. Kultur skala massal dimulai dari volume 1 ton sampai 20 ton.

  3. Aerasi yang telah dipasang di beberapa titik diaktifkan.


B. PUPUK
  1. Pupuk yang digunakan adalah pupuk teknis atau pupuk pertanian.

  2. Pupuk yang digunakan adalah NPK 30 ppm, Silikat 5 ppm, EDTA 2 ppm, FeCb 1 ppm dan vitamin 2 ppm.

  3. Penggunaan pupuk dengan cara melarutkan pupuk dengan air tawar selanjutnya dilarutkan ke media kultur.

  4. Khusus untuk silikat, sebelum digunakan dibuat larutan silikat 5 mg/liter dengan pengencer aquades. Selanjutnya larutan silikat yang sudah jadi dituangkan ke media kultur sebanyak 100 ml/ton.

  5. Pupuk harus teraduk rata agar tidak menyisakan padatan yang dapat menyebabkan racun bagi organisme yang akan mengkonsumsi fitoplakton terse but.


C. BIBIT
  1. Bibit Ske/etonema sp. yang akan digunakan adalah dari hasil kultur semi-massal.

  2. Kondisi bibit diamati dengan mikroskop.

  3. Bibit tidak boleh terkontaminasi dengan fitoplankton lain atau protozoa.

  4. Rantai Ske/etonema harus panjang (diatas 5 rangkaian).

  5. Bibit tidak menggumpal.

  6. Bibit yang digunakan sebaiknya berumur 2 hari, yang dipanen menggunakan kain satin berbentuk kantung.

  7. Jumlah bibit 1/10 dari bagian dari volume kultur.


D. PANEN
  1. Panen dilakukan pada saat puncak populasi.

  2. Ske/etonema dapat dipanen total dan sebagian (2/3 bagian).

  3. Panen dilakukan dengan mengalirkan Skeletonema lewat selang dan ditampung dengan kantong panen.

  4. Setelah digunakan, kantong panen dicuci dengan diterjen lalu dibilas bersih dan dikeringkan.

  5. Peralatan dibersihkan dan disimpan di tempat yang telah disediakan.

SISTEM REPRODUKSI UDANG GALAH

Udang galah memijah sepanjang tahun, tidak mengenal masa kawin. Pemijahan biasanya terjadi pada malam hari, meskipun dapat berpijah pada siang hari. Udang galah yang siap pijah dapat dilihat dari gonadnya dengan warna merah orange yang menyebar keseluruh bagian gonad sampai cephalotorax.

Sebelum memijah udang betina terlebih dahulu berganti kulit (premating moult). Pada saat berganti kulit ini kondisi udang lemah. Setelah pulih kembali terjadi pemijahan. Pemijahan dapat dilakukan di kolam tanah, akuarium, bak beton atau fibreglass dengan padat tebar 4 ekor/m². 

Spermatozoa dari udang galah jantan akan tertampung, Spermatheca menunggu saatnya telur keluar melalui melalui organ tersebut. Pada saat perjalanan telur ke ovarium ketempat pengeraman inilah terjadi pembuahan. Sesuai dengan sifatnya,

Perbandingan jantan dan betina 1:3. Selama pemijahan, induk diberi pakan pelet dengan kandungan protein 30 %sebanyak 5% per hari dari berat biomassa dengan frekwensi pemberian pakan 4 kali sehari. Pemijahan berlangsung selama 21 hari.

Setelah dilakukan pemijahan dipilih induk dengan telur berwarna abu-abu. Induk tersebut diberi perlakuan dengan larutan Methylene Blue sebanyak 1,5 mg/liter, dengan cara perendaman selama 25 menit.

Bak penetasan yang digunakan berukuran (1x1x0,5) m³ dengan media air payau bersalinitas 3 s/d 5 ppt. Padat penebaran induk 25 ekor per bak. Selama penetasan telur, induk diberi makan berupa ketela rambat, singkong atau kentang yang dipotong kecil-kecil. Hal ini untuk menghindari dampak negatif kualitas air.Pada suhu 28-30°C telur akan menetas dalam waktu 6-12 jam.

HABITAT DAN PENYEBARAN UDANG GALAH

Apabila diperhatikan tingkah laku dan kebiasaan hidupnya fase dewasa udang galah sebagian besar dijalani di dasar perairan tawar dan fase larva bersifat planktonik yang sangat memerlukan air payau. Udang galah mempunyai habiat perairan umum, misalnya rawa, danau, dan sungai yang berhubungan dengan laut sebagai hewan yang bersifat Eurohaline. Mempunyai sifat toleransi tinggi terhadap salinitas yaitu antara 0 – 20 ppt, hal ini berhubungan erat dengan siklus hidupnya.

Dialam udang galah dapat berpijah didaerah tawar pada jarak lebih dari 100 km dari muara sungai/laut dan membiarkan larvanya ikut terbawa aliran sungai mencapai perairan payau dengan resiko kematian yang tinggi.

Secara alami penyebaran udang galah meliputi daratan Indopasifik mulai dari bagian timur benua Afrika sampai dengan kepulauan Malaysia termasuk Indonesia, Diperairan Indonesia sendiri udang galah tersebar luas mulai dari Sumatra, Jawa, Kalimantan sampai dengan ke Papua.

Ikut campurnya manusia dalam penyebaran ini telah terlihat dengan ditemukannya udang galah dibenua Amerika dan Australia, sebelumya didaerah tersebut tidak pernah terdapat udang galah alami, Walaupun dengan demikian tidak tertutup kemungkinan adanya cara penyebaran lain selain campur tangan manusia.

SEKILAS TENTANG BALAI BUDIDAYA AIR PAYAU UJUNG BATEE PROVINSI ACEH

Gambaran Umum Balai Budidaya Air Payau Ujung Batee
Balai budidaya air payau ujung batee, merupakan salah satu Unit Pelaksanaan Teknis (UPT) di lingkungan Departemen Kelautan dan Perikanan.
Balai Budidaya Air Payau Ujung Batee berdiri pada tahun 1986 berdasarkan SK Menteri Peretanian No.473/kpts/OT.210/8/ 1986 Tanggal 5 Agustus 1986 dengan Nama ”SUB Centre Udang” dan disempurnakan lagi dengan SK Menteri Pertanian No. 264/kpts/OT.210/1994 Tanggal 18 April 1994 menjadi “ Loka Budidaya Air Payau”. Pada saat itu Loka Budidaya Air Payau Ujung Bate diberi tugas melaksanakan penerapan teknik penerapan air payau serta kelestarian sumber daya ikan di lingkungan wilayah Indonesia bagian barat khususnya Sumatera. Pada tanggal 19 Oktober 1999 Loka Budidaya Air Payau mendapat tugas berdasarkan SK Menteri Pertanian No.1040.1/kpts/ik.150/10/1999 dan SK menteri Eksploitasi Laut dan Perikanan No. 65 Tahun 2000. Selanjutnya pada tanggal 18 November 2002 Loka Budidaya Air Payau Ujung Batee mendapat tugas sebagai pelaksana teknik Pembenihan dan Pembudidayaan Ikan Air Payau serta pelestarian sumber daya induk atau benih ikan dan lingkungan berdasarkan SK Menteri  Kelautan dan Perikanan Nomor. KEP.49/MEN/2002.
Pada perkembangan terakhir sesuai dengan kebutuhan Organiasasi Loka Budidaya Air Payau berdasarkan peraturan Menteri Keluatan dan Perikanan nomor. PER.08/MEN/2006 Tanggal 12 Januari 2006 mendapatkan peningkatan ekselon ke III/a sehingga struktur organisasi meningkat menjadi Balai Budidaya Air Payau Ujung Bate.
Secara umum usaha aplikasi teknik dan segala aspek kegiatan dan sumberdaya manusia terus berkembang sesuai dengan dinamika kehidupan, walaupun dalam berbagai sisi masih harus dilakukan pembinaan dan dipacu perkembangannya.
Sejak berdirinya Balai Budidaya Air Payau Ujung Bate sudah mulai memproduksi benur yang beralokasi di desa Durung. Namun produksinya masih sangat terbatas disebabkan Fasilitas yang kurang mendukung sehingga usaha pembenihan Udang sempat tidak berjalan selama beberapa tahun. Kemudian pada Tahun 1997, dibawah kepemimpinan Bapak Sugeng Raharjo, A.Pi, Balai Budidaya Air Payau Ujung Bate mulai menjalankan kembali usaha pembenihan yang telah lama terbengkalai.
Pada tahun 2005 kegiatan di Balai Budidaya Air Payau sempat berhenti selama beberapa bulan karena adanya musibah Gempa dan Tsunami pada tahun akhir tahun 2004 yang melanda daerah NAD dan Sumatara. Balai Budidaya Air Payau Ujung Batee mulai beroperasi kembali pada bulan Mei tahun 2005.
Sampai tahun 2007 ada beberapa keberhasilan usaha yang sudah dirintis oleh Balai Budidaya Air Payau Ujung Batee antara lain, Pembenihan Udang Windu, budidaya udang windu, Budidaya Udang Putih, Pembenihan dan Budidaya Ikan Bandeng, Budidaya Kepiting Sangkat, Produksi Pakan Alami, dan Budidaya Kerapu Kertang. Kegiatan usaha  tersebut dipimpin oleh seorang kepala proyek yang berada di bawah pembinaan dan pengawasan Balai Budidaya Air Payau Ujung Bate.
Balai Budidaya Air Payau Ujung Bate sebagai pusat bisnis incubator sangat berkepentingan dalam memacu perkembangan budidaya air payau secara terarah dan terprogram. Setiap usaha budidaya dipimpin dan dijalankan oleh seorang ketua divisi. Setiap divisi bertanggung jawab kepada pimpinan proyek. Usaha pembenihan udang windu dijalankan oleh Bapak Joko Purwantyo sebagai bapak divisi pembenihan Udang yang didampingi oleh 4 orang Asisten pelaksana.

Tugas Dan Fungsi Balai Budidaya Air Payau.
Balai Budidaya Air Payau Ujung Bate mempunyai tugas pokok yaitu penerapan teknik pembenihan dan budidaya ikan air payau serta pelestarian sumberdaya induk atau benih ikan dan lingkungan.
Wilayah kerja Balai Budidaya Air Payau Ujung Bate meliputi seluruh Sumatra yang terdiri dari Sembilan provinsi yaitu:
a. Prov NAD                                                
b.Sumatra Utara
c. Sumatra Barat
d.Riau
e. Jambi
f.  Bangka Belitung
g. Sumatra Selatan
h. Bengkulu

Dalam menjalankan tugas pokok tersebut, Balai Budidaya Air Payau Ujung Batee menyelenggarakan fungsi:
a.       Pengkajian, pengujian dan bimbingan penerapan standar pembenihan dan pembuididayaan ikan air payau.
b.      Pengkajian standard pelaksanaan sertifikasi system mutu dan sertifikasi personil pembenihan serta pembudidayaan ikan air payau.
c.       Pengkajian system dan tata laksana produksi dan pengolahan induk penjenis dan induk dasar ikan air payau.
d.      Pelaksanaan pengujian teknik pembenihan dan pembudidayaan ikan air payau.
e.       Pengkajian standar pengawasan benih, Pembudidayaan serta pengendalian hama dan penyakit ikan air payau.
f.        Pengkajian standar pengendalian dan sumberdaya individu atau benih ikan air payau.
g.       Pelaksanaan sistem jaringan laboratorium pengujian, pengawasan benih dan pembudidayaan ikan air payau.
h.       Pengelolaan dan pelayanaan informasi dan fublikasi pembenihan dan pembudidayaaan ikan air payau.
i.         Pelaksanaan urusan data usaha dan rumah tangga.

 Visi Dan Misi Balai Budidaya Air Payau Ujung Bate
Visi Balai Budidaya Air Payau Ujung Bate adalah sebagai Pusat Pengembangan dan Informasi dalam pendampingan Teknologi Bididaya Air Payau dalam menunjang pembangunan perikanan budidaya yang ramah lingkungan, berdaya saing, dan berkelanjutan.
Untuk mencapai visi tersebut, Misi Balai Budidaya Air Payau Ujung Bate sebagai berikut:
a.       Mengkaji dan menerapkan teknologi budidaya air payau yang sederhana, efisien, berdaya guna dan berhasil guna.
b.      Meningkatkan peranan balai sebagai pendamping teknologi di masyarakat dalam rangka proses alih teknologi.
c.       Meningkatkan kualitas dan kaapabilitas sumber daya maniusia Balai budidaya air payau ujung bate.
d.      Pengembangan jenis – jenis komoditas ekonomis spesifik lokasi.
e.       Mewujudkan sentral pengembangan bank induk udang windu unggul.
f.        Mendorong berkembangnya usaha perikanan budidaya air payau yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan

Sarana Pokok
Lokasi Balai Budidaya Air Payau Ujung Bate berada di kabupaten Aceh Besar dengan dua lokasi pengembangan. Lokasi pertama ( Balai Satu ) terletak di desa Durung Kecamatan Mesjid Raya dengan luas areal 2,09 ha, sarana dan prasarana terdiri dari gedung kantor, bak induk bandeng, bak induk kerapu, hatchery bandeng, hatchery kerapu, lab pakan alami, lab hama dan penyakit, lab pakan buatan, bak larva out door, bak pakan alami, perpustakaan dan musolla.
Lokasi kedua ( Balai Dua ) terletak di Desa Neheun Kecamatan Mesjid Raya, 1 (satu ) KM dari lokasi pertama dengan luas areal 7,58 ha. Sarana dan prasarana terdiri dari bak induk udang windu, bak induk udang kelong/lamboeh,bak induk udang galah, hathcery windu, hathcery udang galah, bak pakan alami massal, reservoir air laut 450 ton, bak pakan alami, bak larva out door, tambak pendederan, tambak calon induk, tambak udang windu dan tambak bandeng umpan.


Sarana Penunjang
Sarana Tranportasi
Sarana Transportasi yang ada di BBAP Ujung Batee Berjumlah  7 buah dan masing –masing mempunyai fungsi yang berbeda antara lain:
Ø      Mobil jenis double cabin, untuk kendaraan oprasional Kepala Balai
Ø      Mobil Jenis Kijang Kapsul untuk kendaraan oprasional bagian Kepegawaian dan   Administrasi.
Ø      Mobil jenis kijang Inova untuk kendaraan oprasional Aciar Project.
Ø      Mobil Jenis pick up untuk keperluan bagian budidaya dan pembenihan.
Ø      Mobil  Jenis Van digunakan untuk Laboratorium keliling
Ø      Mobil jenis Minibus untuk kendaraan antar jemput anak sekolah.

Gudang
Gudang digunakan untuk menyimpan pakan, obat – obatan, mesin pompa  dan lain – lain.

 Laboratorium
Laboratorium di BBAP Ujung Batee berjumlah 2 buah yaitu laboratorium pakan alami dan laboratorium hama pemyakit lingkungan. Masing – masing mempunyai fungsi yang berbeda. Laboratorium hama penyakit digunakan untuk mengecek semua hal yang berhubungan dengan kualitas air pemeliharaan dan penyakit. Sedangkan laboratorium pakan alami digunakan untuk kultur pakan alami skala lab.

 Sarana pelengkap
            Fasilitas pelengkap ini juga berpengaruh dalam budidaya ikan dan udang seperti, kantor, pos jaga, jalan, dan musholla dengan jumlah masing – masing :
·        Satu buah pos jaga keamanan
·        18 buah rumah untuk lokasi 1 dan 14 buah untuk lokasi 2
·        Jalan yang menghubungkan lokasi dengan jalan raya
·        1 buah moshala.
·        Kantor Utama ,Pembenihan 1,Pembesaran 1

PENGARUH BOKASHI DALAM PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN

Pada prinsipnya, peranan pupuk bokashi hampir sama dengan pupuk organik lainnya seprti kompos, namun pada bokashi EM pengaruhnya dipercepat dengan adanya penambahan mikroorganisme efektif.  Bokashi dapat digunakan 3-14 hari setelah perlakuan (fermentasi).  Bokashi dapat digunakan untuk meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman meskipun bahan organiknya belum terurai seperti pada kompos. Bila bokashi dimasukan kedalam tanah, bahan organiknya dapat digunakan sebagai pakan oleh mikroorganisme efektif untuk berkembangbiak dalam tanah, sekaligus sebagai tambahan persediaan unsur hara bagi tanaman.
            EM yang digunakan dalam pembuatan bokashi sangat berguna sekali dalam perbaikan sifat fisik, kimia dan biologi tanah, juga dapat menekan pertumbuhan hama dan penyakit yang merugikan tanaman.  Dengan demikian penggunaan bokasi EM baik secara langsung maupun tidak, sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman pertanian termasuk padi , palawija dan sayuran.
 Penggunaan bokasi secara rinci berpengaruh terhadap:
-         Peningkatan ketersediaan nutrisi tanaman
-         Aktivitas hama dan penyakit/patogen  dapat ditekan
-         Peningkatan aktivitas mikroorganisme indogenus yang      menguntungkan, seperti Mycorhiza, Rhizobium, bakteri pelarut fosfat, dll.
-         Fiksasi Nitrogen
-         Mengurangi kebutuhan pupuk dan pestisida kimia.
Dengan demikian, dapat terlihat bahwa penggunaan pupuk bokashi memiliki      prinsip ekologi sebagai berikut:
-     Memperbaiki kondisi tanah sehingga menguntungkan pertumbuhan     tanaman terutama pengelolaan bahan organik dan meningkatkan kehidupan biologi tanah
-     Optimalisasi ketersediaan dan keseimbangan daur hara, melalui fiksasi nitrogen, penyerapan hara, penambahan dan daur pupuk dari luar usaha tani.
-     Membatasi kehilangan hasil panen akibat aliran panas, udara dan air dengan cara mengelola iklim mikro, pengelolaan air dan pencegahan erosi
Membatasi kehilangan hasil panen akibat hama dan penyakit dengan melaksanakan usaha preventif melalui perlakuan yang aman.
Bertolak dari kegunaan dan prinsip ekologi dari penggunaan pupuk bokashi tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa dengan tersedianya nutrisi tanaman yang cukup dan aktivitas hama dan penyakit yang dapat ditekanpertumbuhan dan produksi tanaman pertanian dapat meningkat baik kualitas maupun kuantitasnyaSelain itu penggunaan pupuk ini juga ramah lingkungan, produk yang dihasilkan tidak tercemar oleh bahan-bahan kimia yang membahayakan kesehatan dan lingkungan.
            Akhirnya, dapat kita simpulkan bahwa dalam rangka peningkatan produksi tanaman pertanian, penggunaan pupuk bokashi  merupakan salah satu alternatif yang bijak, efektif dan efisien.

Racun Pada Tanaman dan Tumbuhan

1. Kacang merah (Phaseolus vulgaris)


Racun alami yang dikandung oleh kacang merah disebut fitohemaglutinin (phytohaemagglutinin), yang termasuk golongan lektin. Keracunan makanan oleh racun ini biasanya disebabkan karena konsumsi kacang merah dalam keadaan mentah atau yang dimasak kurang sempurna. Gejala keracunan yang ditimbulkan antara lain adalah mual, muntah, dan nyeri perut yang diikuti oleh diare. Telah dilaporkan bahwa pemasakan yang kurang sempurna dapat meningkatkan toksisitas sehingga jenis pangan ini menjadi lebih toksik daripada jika dimakan mentah. Untuk mengurangi kemungkinan terjadinya keracunan akibat konsumsi kacang merah, sebaiknya kacang merah mentah direndam dalam air bersih selama minimal 5 jam, air rendamannya dibuang, lalu direbus dalam air bersih sampai mendidih selama 10 menit, lalu didiamkan selama 45-60 menit sampai teksturnya lembut.


2. Singkong

Singkong mengandung senyawa yang berpotensi racun yaitu linamarin dan lotaustralin. Keduanya termasuk golongan glikosida sianogenik. Linamarin terdapat pada semua bagian tanaman, terutama terakumulasi pada akar dan daun. Singkong dibedakan atas dua tipe, yaitu pahit dan manis. Singkong tipe pahit mengandung kadar racun yang lebih tinggi daripada tipe manis. Jika singkong mentah atau yang dimasak kurang sempurna dikonsumsi, maka racun tersebut akan berubah menjadi senyawa kimia yang dinamakan hidrogen sianida, yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan. Singkong manis mengandung sianida kurang dari 50 mg per kilogram, sedangkan yang pahit mengandung sianida lebih dari 50 mg per kilogram. Meskipun sejumlah kecil sianida masih dapat ditoleransi oleh tubuh, jumlah sianida yang masuk ke tubuh tidak boleh melebihi 1 mg per kilogram berat badan per hari. Gejala keracunan sianida antara lain meliputi penyempitan saluran nafas, mual, muntah, sakit kepala, bahkan pada kasus berat dapat menimbulkan kematian. Untuk mencegah keracunan singkong, sebelum dikonsumsi sebaiknya singkong dicuci untuk menghilangkan tanah yang menempel, kulitnya dikupas, dipotong-potong, direndam dalam air bersih yang hangat selama beberapa hari, dicuci, lalu dimasak sempurna, baik itu dibakar atau direbus. Singkong tipe manis hanya memerlukan pengupasan dan pemasakan untuk mengurangi kadar sianida ke tingkat non toksik. Singkong yang umum dijual di pasaran adalah singkong tipe manis.


3. Pucuk bambu (rebung)

Racun alami pada pucuk bambu termasuk dalam golongan glikosida sianogenik. Untuk mencegah keracunan akibat mengkonsumsi pucuk bambu, maka sebaiknya pucuk bambu yang akan dimasak terlebih dahulu dibuang daun terluarnya, diiris tipis, lalu direbus dalam air mendidih dengan penambahan sedikit garam selama 8-10 menit. Gejala keracunannya mirip dengan gejala keracunan singkong, antara lain meliputi penyempitan saluran nafas, mual, muntah, dan sakit kepala.


4. Biji buah-buahan

Contoh biji buah-buahan yang mengandung racun glikosida sianogenik adalah apel, aprikot, pir, plum, ceri, dan peach. Walaupun bijinya mengandung racun, tetapi daging buahnya tidak beracun. Secara normal, kehadiran glikosida sianogenik itu sendiri tidak membahayakan. Namun, ketika biji segar buah-buahan tersebut terkunyah, maka zat tersebut dapat berubah menjadi hidrogen sianida, yang bersifat racun. Gejala keracunannya mirip dengan gejala keracunan singkong dan pucuk bambu. Dosis letal sianida berkisar antara 0,5-3,0 mg per kilogram berat badan. Sebaiknya tidak dibiasakan mengkonsumsi biji dari buah-buahan tersebut di atas. Bila anak-anak menelan sejumlah kecil saja biji buah-buahan tersebut, maka dapat timbul gejala keracunan dan pada sejumlah kasus dapat berakibat fatal.


5. Kentang

Racun alami yang dikandung oleh kentang termasuk dalam golongan glikoalkaloid, dengan dua macam racun utamanya, yaitu solanin dan chaconine. Biasanya racun yang dikandung oleh kentang berkadar rendah dan tidak menimbulkan efek yang merugikan bagi manusia. Meskipun demikian, kentang yang berwarna hijau, bertunas, dan secara fisik telah rusak atau membusuk dapat mengandung kadar glikoalkaloid dalam kadar yang tinggi. Racun tersebut terutama terdapat pada daerah yang berwarna hijau, kulit, atau daerah di bawah kulit. Kadar glikoalkaloid yang tinggi dapat menimbulkan rasa pahit dan gejala keracunan berupa rasa seperti terbakar di mulut, sakit perut, mual, dan muntah. Sebaiknya kentang disimpan ditempat yang sejuk, gelap, dan kering, serta dihindarkan dari paparan sinar matahari atau sinar lampu. Untuk mencegah terjadinya keracunan, sebaiknya kentang dikupas kulitnya dan dimasak sebelum dikonsumsi.


6. Tomat hijau

Tomat mengandung racun alami yang termasuk golongan glikoalkaloid. Racun ini menyebabkan tomat hijau berasa pahit saat dikonsumsi. Untuk mencegah terjadinya keracunan, sebaiknya hindari mengkonsumsi tomat hijau dan jangan pernah mengkonsumsi daun dan batang tanaman tomat.


7. Parsnip (semacam wortel)

Parsnip mengandung racun alami yang disebut furokumarin (furocoumarin). Senyawa ini dihasilkan sebagai salah satu cara tanaman mempertahankan diri dari hama serangga. Kadar racun tertinggi biasanya terdapat pada kulit atau lapisan permukaan tanaman atau di sekitar area yang rusak. Racun tersebut antara lain dapat menyebabkan sakit perut dan nyeri pada kulit jika terkena sinar matahari. Kadar racun dapat berkurang karena proses pemanggangan atau perebusan. Lebih baik bila sebelum dimasak, parsnip dikupas terlebih dahulu.


8. Seledri

Seledri mengandung senyawa psoralen, yang termasuk ke dalam golongan kumarin. Senyawa ini dapat menimbulkan sensitivitas pada kulit jika terkena sinar matahari. Untuk menghindari efek toksik psoralen, sebaiknya hindari terlalu banyak mengkonsumsi seledri mentah, dan akan lebih aman jika seledri dimasak sebelum dikonsumsi karena psoralen dapat terurai melalui proses pemasakan.


9. Zucchini (semacam ketimun)

Zucchini mengandung racun alami yang disebut kukurbitasin (cucurbitacin). Racun ini menyebabkan zucchini berasa pahit. Namun, zucchini yang telah dibudidayakan (bukan wildtype) jarang yang berasa pahit. Gejala keracunan zucchini meliputi muntah, kram perut, diare, dan pingsan. Sebaiknya hindari mengkonsumsi zucchini yang berbau tajam dan berasa pahit.


10. Bayam

Asam oksalat secara alami terkandung dalam kebanyakan tumbuhan, termasuk bayam. Namun, karena asam oksalat dapat mengikat nutrien yang penting bagi tubuh, maka konsumsi makanan yang banyak mengandung asam oksalat dalam jumlah besar dapat mengakibatkan defisiensi nutrien, terutama kalsium. Asam oksalat merupakan asam kuat sehingga dapat mengiritasi saluran pencernaan, terutama lambung. Asam oksalat juga berperan dalam pembentukan batu ginjal. Untuk menghindari pengaruh buruk akibat asam oksalat, sebaiknya kita tidak mengkonsumsi makanan yang mengandung senyawa ini terlalu banyak.

Uji Efek Ekstrak Barringtonia racemosa dan Getah Calostropis gigantia terhadap Keong Mas (Pomacea canaliculata)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1        Latar Belakang
Sekarang ini, keong mas sangat meresahkan para petani. Keong mas yang dulunya dijadikan sebagai hewan hiasan dan peliharaan kini malah sudah menjadi hama bagi tanaman padi. Keong mas ini tidak mudah untuk dimusnahkan, karena hewan ini memiliki perkembangan yang cukup cepat. Hanya dalam umur hitungan minggu saja, hewan ini sudah dapat bertelur dalam jumlah yang banyak.
 Biji Penteut Ie (Barringtonia racemosa) dan getah pohon widuri merupakan salah satu pohon yang mengandung zat toksik yang mampu membunuh keong mas ini. Hal ini belum banyak diketahui oleh warga dikarenakan penelitian untuk hal ini belum banyak dilakukan. Salah satu dosen kami dari Jurusan Ilmu Kelautan dan juga sebagai dosen pengasuh mata kuliah Toksikologi yaitu bapak Dr. Musri Musman sebagai dosen bidang kimia telah melakukan penelitian yang menyangkut hal ini. Menurut hasil penelitian yang telah dilakukan beliau, Biji dari pohon Penteut Ie ini bisa membunuh keong mas dalam kurun waktu 48 jam.
Hal ini sangat berguna bagi kita semua mengingat hama keong mas ini sudah semakin mendunia. Selain itu, pohon puntuet ie dan getah pohon Widuri ini merupakan bahan yang sangat mudah ditemukan didalam lingkungan dan juga bisa menghemat biaya.
Berdasarkan pada penelitian yang telah dilakukan, kami melakukan percobaan ini guna membuktikan dan membandingkan zat toksik dari pohon mana yang lebih cepat membunuh keong mas tersebut.

1.2        Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum toksikologi ini yaitu untuk mengetahui berapa lama efek toksik dari ekstrak biji Penteut ie dan getah dari pohon Widuri terhadap keong mas.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1    Barringtonia racemosa
Barringtonia racemosa merupakan tanaman tropis tingkat tinggi anggota dari famili Lecythidaceae (Sangai, 1971) yang banyak tersebar di Afrika Timur, Asia Tenggara dan Kepulauan Pasifik (Strey, 1976; Chantaranothai, 1995).  Tumbuh di negara-negara berlintang rendah dimana terkena sinar matahari dengan intensitas tinggi dalam jangka waktu yang lama.
Barringtonia racemosa merupakan tumbuhan asosiasi mangrove, yang dapat ditemukan di daerah hutan hujan tropis dan daratan rendah yang terbuka (Sangai, 1971). Tumbuhan ini dapat mentolerir air dengan salinitas yang tinggi sehingga dapat tumbuh subur pada daerah pantai dan estuari (Strey, 1976).
Secara lokal tanaman ini dikenal sebagai peunteut ie (Musman, 2010) dan bijinya sering digunakan sebagai obat tradisional untuk mengobati batuk, asma, dan diare (Ojewole et al, 2005). Di Malaysia daunnya digunakan sebagai obat darah tinggi (Chantaranothai, 1995).

2.2  Calostropis gigantea
Biduri atau widuri dengan nama ilmiah Calostropis gigantea memiliki sinonim Aselepias gigantea Willd, termasuk familia aselepiadaceae. Di Sumatera dikenal sebagai rubik biduri, lembega, rembega dan rumbigo. Masyarakat di Jawa mengenalnya sebagai babakoan, badori, biduri, widuri, saduri, sidaguri, bhiduri dan burigha. Sedagkan di Nusatenggara disebut muduri, rembiga, kore, krokoh kolonsusu, mado kapauk, modo kampauk. Di Sulawesi dikenal sebagai lambega. Widuri banyak ditemukan di daerah bermusim kemarau panjang, seperti padang rumput yang kering, lereng-lereng gunung yang rendah, dan pantai berpasir.
            Tumbuhan ini berciri-ciri semak tegak, tinggi 0,5-3 m. Batang bulat, tebal, ranting muda berambut tebal berwarna putih. Daun tunggal, bertangkai pendek, letak berhadapan. Helaian daun berbentuk bulat telur atau bulat panjang, ujung tumpul, pangkal berbentuk jantung, tepi rata, pertulangan menyirip, panjangnya 8-30 cm, lebar 4-15 cm, berwarna hijau muda. Permukaan atas helaian daun muda berambut rapat berwarna putih (lambat laun menghilang), sedangkan permukaan bawah tetap berambut tebal berwarna putih, namun bulunya akan luluh bila daun sudah tua. Mahkota bunganya bewarna ungu dengan tabungnya yang bewarna hijau pucat, sedangkan mahkota bunga tambahan bewarna putih.
Biduri berbiji bulat telur memanjang dengan ujung melengkung serupa kait, bijinya bewarna coklat, berambut pendek dan lebat serta berumbai putih seperti sutera yang panjang. Batangnya bila ditoreh akan mengeluarkan getah bewarna putih dan rasanya pahit. Getah ini dapat dipakai untuk obat sakit gigi. Pada zaman dulu, orang Cina di Indonesia memanfaatkan  bunga widuri sebagai manisan, dan serabut batangnya digunakan untuk jaring ikan atau dibuat tali.
Kulit akar biduri dikenal dengan nama simplisia Calotropidis radix cortex. Kandungan zat kimia berkhasiatnya adalah saponin, sapogenin, kalotropin, kalotoksin, uskarin, kalaktin, gigantin dan harsa. Kegunaan kulit akar biduri adalah untuk memacu enzim pencernaan dan peluruh keringat. Sedangkan getahnya dipakai untuk pencahar dan penyebab muntah. Getah biduri bersifat racun.

2.2    Keong mas (Pomacea canaliculata)
            Keong mas atau murbai ( Pomacea canaliculata ) merupakan salah satu jenis invertebrara dari kelas Gastropoda air tawar yang diintroduksi ke Indonesia pada tahun 1981 sebagai hewan hias. Sejak awal introduksi ada dua pendapat yang bertentangan perihal keong mas. Satu pihak mendukung introduksi keong mas dan mengembangbiakkannya sebagai komoditas ekspor dan ekonomu, dan di pihak lain mengkhawatirkan keong mas akan menjadi hama tanaman dan pertanian.
Keong mas (Pomacea canaliculata) termasuk dalam filum: Molusca, Kelas: Gastropoda, Sub kelas: Pulmonata, Ordo: Stylommatohora, Genus: Ampallarius, dan Spesies: Pomacea canaliculata (Ghesquiere, 2007).
Pomecea canaliculata secara morfologi ditandai oleh karakteristik sebagai berikut : rumah siput bundar, memiliki menara pendek, rumah siput besar, mulut besar dengan bentuk oval, overculum tebal rapat menutup mulut apabila diberikan gangguan, berwarna kuning muda, dagingnya lunak berwarna putih krem, terkadang ditemukan juga yang berwarna biru gelap. Operculum betina cekung dan tepi mulut rumah ciput melengkung ke dalam, sebaliknya operculum jantan cembung dan tepi mulut rumah siput melengkung keluar.
Keong mas (Pomacea canaliculata) dapat menyebar dengan cepat karena setiap keong mas dewasa (60 hari setelah menetas hingga 3 tahun) menghasilkan telur berkisar antara 132 sampai 1.827 butir. Telur menetas setelah 7 sampai 14 hari dengan persentase menetas lebih 80% (Musman, 2004).

BAB III
METODELOGI PEERCOBAAN


3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan di laboratorium Jurusan Ilmu Kelautan UNSYIAH pada tanggal 5 juni 2011 pada pukul 09.00 sampai selesai.

3.2 Alat dan Bahan
            Tabel 3.2.1 Nama alat dan bahan
No.
Nama alat dan bahan
Jumlah
1.
Aquarium
3 unit
2.
Keong mas
secukupnya
3.
Ekstrak Penteut Ie
secukupnya
4.
Air
secukupnya
5.
Getah widuri
Secukupnya

3.3 Metode Kerja
a. Keong mas + ekstrak Penteut Ie
ü  Dibersihkan keoang mas terlebih dahulu
ü  Dimasukkan kedalam aquarium yang telah diisi air
ü  Dibiarkan dulu keong mas bergerak bebas
ü  Dituangkan larutan Penteut Ie yang telah disiapkan terlebih dahulu pada beberapa sisi aquarium
ü  Dibiarkan sampai keong mas mati


b. Keong mas + getah Widuri
ü  Dibersihkan keoang mas terlebih dahulu
ü  Dimasukkan kedalam aquarium yang telah diisi air
ü  Dibiarkan dulu keong mas bergerak bebas
ü  Dituangkan getah Widuri yang telah disiapkan terlebih dahulu pada beberapa sisi aquarium
ü  Dibiarkan sampai keong mas mati


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil
§  Keong mas + ekstrak Penteut Ie

§  Keong mas + getah pohon Widuri


4.2 Pembahasan
Dari hasil percobaan yang telah dilakukan dapat kita bisa liat bahwa ekstrak pohon Penteut Ie dan getah pohon Widuri mampu membunuh keong mas walaupun dalam kurun waktu lebih dari 24 jam. Tetapi ada juga yang langsung mati dalam waktu 10 menit. Ini dikarenakan pertahanan tubuh dari masing-masing keong mas tersebut yang tidak dapat menerima zat-zat yang ada terkandung pada Barringtonia racemosa dan Calostropis gigantea. Pada kedua jenis tanaman tersebut mengandung senyawa metabolit sekunder, yaitu saponin dan flavonoid. Kedua jenis senyawa tersebut merupakan senyawa racun bagi hewan Keong mas, terutama senyawa saponin.
Dapat kita ketahui secara visualisasi, bahwa eksrak biji Barringtonia racemosa  mengandung saponin. Pada saat melarutkan ekstrak biji Barringtonia racemosa terbentuk busa-busa pada campuran ektrak Barringtonia racemosa dengan air. Hal ini menandakan bahwa Barringtonia racemosa mengandung saponin. Untuk uji terhadap kandungan flavoid terhadap tanaman dibutuhkan uji laboratorium kembali. Namun berdasarkan referensi yang telah ada dapat diketahui kandunga saponin pada tanaman Barringtonia racemosa. Sedangkan pada tanaman Calostropis gigantea ataupun Widuri juga terkandung berbagai macam jenis metabolit sekunder. Hal ini dapat kita lihat pada kegunaan tanaman Calostropis gigantea untuk pengobatan tradisional.
Pada uji ekstrak Barringtonia racemosa dan Calostropis gigantea terhadap beberapa Keong Mas pada aquarium yang telah berisi air, diberikan perlakuan pendiaman terhadap Keong mas supaya merasa nyaman dan bergerak di dalam aquarim. Hal ini dilakukan agar proses masuknya senyawa racun ke dalam tubuh Keong Mas berlansung sangat cepat dikarenakan pada saat keong bergerak, dikarenakan pada saat keoan Mas bergerak operculum keong akan terbuka dan senyawa-senyawa racun masuk lansung ke dalam tubuh.
Respon Keong ketika dimasukkan larutan ekstrak Barringtonia racemosa dan Calostropis gigantea ke dalam masing-masing dua aquarium yang telah berisikan beberapa Keong mas , sangat berbeda. Pada uji sampel Barringtonia racemosa sampel uji beberapa Keong lansung mengalami respon pergerakan membuka dan menutup operculumnya sambil sesekali mengeluarkan cairan mukosa dari dalam tubuhnya. Hal ini dilakukan keong mas karena tubuh Keong mas tidak menrima keberadaan zat lain di sekitar ruang lingkup kehidupannya, teruma zat yang beracun. Ketika Keong mas mendeteksi zat-zat beracun melalui sungut-sungutnya, Keong lansung berusaha mempertahankan dirinya agar tidak tekontaminasi racun dengan cara menutup tubuhnya dengan operculum serapat-rapatnya dan mengeluarkan cairan mukosa. Akibat pengeluaran cairan mukosa yang terlalu banyak di dalam cangkang menghambat dan menyebabkan Keong mas kesulitan untuk bernapas, sehingga secara perlahan akan menyebabkan kematian pada Keong Mas karena kekurangan oksigen di dalam tubuhnya.
Pada uji sampel Keong Mas yang kedua,di masukkan ekstrak getah dari tanaman  Calostropis gigantea. Ekstrak yang dimasukkan ke dalam aquarium sebelumnya di cairkan dengan air, lalu dituangkan ke dalam aquarium yang berisi beberapa Keong Mas. Setelah dimasukkan efek yang terjadi terhadap Keong Mas sedikit berbeda dengan efek yang terjadi ketika ekstrak Barringtonia racemosa dimasukkan ke dalam aquarium sampel sebelumnya. Keong yang diberikan ekstrak getah Calostropis gigantea mengalami respon menggerakkan membuka dan menutup operculum serta mengeluarkan mukosa namun tidak secepat ketika perlakuan sampel sebelumnya. Tingkah laku Keong mas terhadap racun hanya sementara. Sebagian Keong Mas bergerak menjauh dari ekstrak Calostropis gigantea yang telah dicairkan sebelumnya dan sebagin lagi bahkan ada yang menaiki dinding aquarium untuk mengindari racun dari Calostropis gigantea. Hal ini  dikarenakan ekstak getah Calostropis gigantea yang dicairkan tidak larut secara sempurna, sehingga cairan ekstrak Calostropis gigantea tidak menyebar secara merata di air dan cenderung mengendap di dasar aquarium. 

BAB V
PENUTUP


5.1 Kesimpulan
Dari percobaan yang telah kami lakukan dapat kita ketahui bahwa pohon Penteut Ie dan getah pohon Widuri mengandung zat toksik yang dapat mematikan keong mas yang selama ini menjadi hama bagi padi para petani.  

5.2 Saran
  Semoga dengan adanya praktikum ini, kita bisa memberikan informasi ini kepada masyarakat supaya para petani bisa menerapkannya. Sehingga para petani bisa meminimalkan perkembangan hama keong mas ini yang selama ini memjadi masalah pertama bagi petani sehingga menyebabkan hasil panen berkurang atau gagal panen.
 
© Bosan Kuliah All Rights Reserved