Tampilkan postingan dengan label ILMU LINGKUNGAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ILMU LINGKUNGAN. Tampilkan semua postingan

DAMPAK PERUBAHN IKLIM

Perubahan iklim akan memberikan dampak yang sangat besar pada berbagai sektor, diantaranya:
a.      Dampak Perubahan Iklim terhadap Sektor Pertanian
DAMPAK PERUBAHN IKLIM
Perubahan iklim akan menyebabkan pergeseran musim, sehingga musim kemarau menjadi lebih panjang. Hal ini akan menyebabkan gagal panen, krisis air bersih dan kebakaran hutan. Sehingga Indonesia harus mengimpor beras dari luar negeri untuk memenuhi kebutuhannya. Secara otomatis, produktivitas di bidang pertanian juga akan menurun.
b.      Dampak Perubahan Iklim terhadap Kenaikan Muka Air Laut
Kenaikan temperatur menyebabkan es dan gletser di Kutub Utara dan Selatan mencair. Peristiwa ini menyebabkan terjadinya pemuaian massa air laut dan kenaikan permukaan air laut. Hal ini membawa banyak perubahan bagi kehidupan di bawah laut, seperti pemutihan terumbu karang dan punahnya berbagai jenis ikan. Sehingga akan menurunkan produksi tambak ikan dan udang serta mengancam kehidupan masyarakat pesisir pantai.
Kenaikan muka air laut akan menyebabkan hancurnya tambak-tambak ikan di beberapa daerah, juga dapat merusak terumbu karang yang ada di laut Indonesia.
c.       Dampak Perubahan iklim terhadap Ekosistem
Meningkatnya tingkat keasaman dari laut karena bertambahnya karbondioksida di atmosfer akan membawa dampak negatif pada organisme-organisme laut. Misalnya, hilangnya jenis flora dan fauna khususnya di Indonesia.
d.      Dampak Perubahan iklim terhadap Sumber Daya Air
Pada pertengahan abad ini, rata-rata aliran air sungai dan kelestarian air di daerah sub polar serta daerah tropis basah diperkirakan akan meningkat sebanyak 10-40%. Sementara di daerah subtropis dan daerah tropis yang kering, air akan berkurang sebanyak 10-30% sehingga daerah-daerah yang sekarang sering mengalami kekeringan akan semakin parah kondisinya.
e.       Dampak Perubahan iklim terhadap Kesehatan
Frekuensi timbulnya penyakit seperti malaria dan demam berdarah akan meningkat. Penduduk dengan kapasitas beradaptasi rendah akan semakin rentan terhadap diare, gizi buruk, serta berubahnya pola distribusi penyakit-penyakit yang ditularkan melalui berbagai serangga dan hewan.
f.       Dampak Perubahan iklim terhadap Sektor Lingkungan
Dengan lingkungan yang rusak, alam akan lebih rapuh terhadap perubahan iklim. Apabila terjadi curah hujan yang cukup tinggi akan berpotensi menimbulkan bencana alam seperti banjir dan tanah longsor.

Implementasi Reservoir Management untuk Reservoir Karbonat Studi Kasus: Lapangan Sopa


Implementasi Reservoir Management untuk Reservoir Karbonat
Studi Kasus: Lapangan Sopa

Salis S. Aprilian
Keteknikan Reservoir, PERTAMINA OEP Prabumulih



KATA KUNCI: Reservoir, Management, Karbonat, Sopa

INTISARI

Tulisan ini membahas mengenai pentingnya penanganan reservoir (reservoir management) sejak dini khususnya pada reservoir karbonat yang memang memiliki karakteristik yang unik jika dibandingkan dengan batuan reservoir lainnya. Perbedaan cara penanganan terletak pada rencana pengembangannya (plan of development, P.O.D), terutama bagaimana mengoptimalkan perolehan minyak atau gas dari sistem karbonat yang sangat heterogen. Kajian ini mengambil contoh kasus pada Struktur Sopa sebagai struktur baru yang pernah dijadikan primadona di OEP Prabumulih. Hasil pembahasan ini diharapkan akan bermanfaat bagi pengembangan reservoir karbonat lainnya.
Reservoir
Reservoir pada Struktur Sopa merupakan batuan karbonat yang ditemukan tahun 1997 pada Formasi Baturaja (BRF). Dari hasil studi simulasi reservoir terbaru, berdasarkan data seismik 3D dan 12 sumur produksi, diperoleh kesimpulan bahwa reservoir ini memiliki mekanisme pendorong hanya dari gas terlarut (Solution Gas Drive) dan tekanan reservoir telah turun secara drastis hingga jauh di bawah tekanan titik gelembungnya (bubble point pressure). Kondisi ini  memerlukan usaha pressure maintenance untuk mengembalikan (mempertahankan) tekanan reservoir tersebut. Berdasarkan studi ini diperkirakan akan didapat tambahan perolehan minyak dari primary recovery sekitar 10 % (terhadap total OOIP sebesar 108 MMSTB) menjadi 28 % apabila dilakukan injeksi air sebanyak 40.000 BWPD melalui 6 sumur injeksi.
Dengan latar belakang masalah tersebut, perlu diterapkan suatu strategi raservoir management yang baik sesuai kaidah keteknikan reservoir yang baku. Dengan implementasi ini diharapkan sasaran produksi dan maximum recovery akan tercapai.
Secara operasional maupun keekonomian, hasil kajian ini telah banyak mengubah skenario awal dari rencana pengembangan Struktur Sopa, terutama adanya perubahan sasaran produksi dan jumlah sumur produksi, yang sedianya direncanakan berjumlah 56 sumur menjadi 31 sumur. Selain itu, keberhasilan peningkatan recovery sangat tergantung dari pemenuhan kebutuhan injeksi air, sehingga proyek pressure maintenance tersebut menjadi prioritas utama.

PENDAHULUAN

Reservoir Management didefiniskan sebagai sebuah pengelolaan reservoir secara terencana, konsisten dan berkesinambungan untuk memaksimalkan keuntungan (benefits) dari suatu reservoir (migas)1). Pada tahap implementasi, hal ini akan sangat tergantung dari pemanfaatan sumberdaya manusia (SDM), teknologi, peralatan, dan finansial untuk memaksimalkan keuntungan (profit) dengan cara mengoptimalkan produksi dan meminimalkan biaya operasi dan investasi. Reservoir management harus dilakukan sejak aktivitas eksplorasi, kemudian reservoir tersebut ditemukan, dikembangkan, diproduksikan, sampai akhirnya ditinggalkan (setelah dinilai tidak ekonomis lagi). Dalam prakteknya tentunya harus menganut kaidah petroleum engineering yang baku dan benar, meliputi proses-proses: perencanaan; implementasi dari rencana-rencan tersebut; pemantauan terhadap unjuk kerja; penilaian; dan revisi terhadap rencana/strategi bilamana diperlukan.
                Suatu pendekatan “synergy team” dalam petroleum reservoir management telah dibahas panjang lebar oleh Satter dan Thakur1,2).  Hal yang berkali-kali ditekankan adalah pentingnya sebuah team work antar personel dari berbagai disiplin ilmu yang terlibat dalam aktivitas perminyakan, yakni geophysicist, geologists, petroleum engineers, dan lain-lain. Juga, adanya interaksi yang efektif dan efisien di antara management, engineering, geoscience, dan fungsi penunjang. Suatu contoh, data geologi dan keteknikan reservoir/produksi akan digunakan oleh ahli geofisika untuk meyakinkan adanya perkembangan reservoir yang memungkinkan untuk menambah bor baru. Di lain fihak, hasil interpretasi data seismik dapat digunakan oleh ahli reservoir untuk menilai cadangan, spasi sumur, unjuk kerja sumur, dan lain-lain. Interpretasi awal suatu survei seismik 3-D, misalnya, akan sangat mempengaruhi rencana awal pengembangan  suatu lapangan. Namun, dengan bertambahnya engineering data dan informasi, suatu interpretasi dapat direvisi dan disempurnakan terus menerus. Adalah bukan hal yang tabu apabila ternyata dalam plan of further development (POFD) banyak berubah dari rencana awal.
                Berbicara mengenai penanganan reservoir karbonat, akan menjadi naif apabila tidak terlebih dulu mengetahui karakteristik batuan karbonat itu sendiri. Keheterogenan karakter yang melekat pada sifat batuan karbonat yang dibawanya sejak awal pembentukannya, dan sepanjang pengembangannya, menyebabkan kita harus ekstra hati-hati dalam menyusun rencana pengembangan, memproduksikannya, merawatnya, dan mengelolanya.
                Suatu contoh yang akan dibahas pada tulisan ini adalah mengenai pengelolaan reservoir (reservoir management) Lapangan Sopa yang merupakan reservoir karbonat yang masih aktif memproduksikan minyak dan gas.

LATAR BELAKANG

Pada bukunya, Dickey3) menyebutkan bahwa minyak di batuan karbonat pertama kali ditemukan di Ontario pada tahuan 1850an, dan di Ohio dan Indiana pada tahun 1880an. Pada tahun 1920an sampai dengan 1940an batuan karbonat sebagai reseroir minyak yang cukup besar ditemukan di West Texas, Iran dan Saudi Arabia.
Batuan karbonat merupakan sebutan yang umum untuk limestone, untuk menghindari pembedaan antara dolomite (yang sudah mengalami perubahan komposisi kimia karena penggantian kalsium oleh magnesium) dan limestone murni (kalsium karbonat). Batuan karbonat dapat dibedakan dari batuan pasir (sandstone) dalam banyak hal, di antaranya:
-   asal pembentukannya (karbonat terbentuk dari sisa-sisa jasad renik binatang dan/atau tumbuhan (shellfish dan algae);
-   lokasi pembetukannya (umumnya karbonat ditemukan dekat dengan tempat asal pembentukan-nya, tanpa ditransportasikan dan diendapkan seperti batuan pasir);
-   bahwa kalsium karbonat sebagai bagian inti dari karbonat dapat dengan mudah terlarutkan oleh air, sehingga sangat mungkin terjadi pelarutan dan kristalisasi kembali (recrystallization) setelah batuan ini terbentuk. Pelarutan ini mengakibatkan terbentuknya kavitasi sehingga dapat menyimpan minyak dalam jumlah yang banyak. Selain itu, karena sifat batuan karbonat yang lebih rentan (brittle) terhadap patahan dan pelipatan, dibandingkan dengan sandstone, maka akan memungkinkan terbentuknya rekahan (fractures) yang dapat sebagai jalan untuk mengalirkan fluida reservoir (minyak, gas, atau air).
Secara terminalogi, Dunham membuat klasifikasi batuan karbonat berdasarkan jumlah dan ukuran butiran partikel (grains), yaitu: mudstone, wackstone, packstone, grainstone, boundstone, dan crystalline carbonate3). Klasifikasi ini hanyalah salah satu dari sekian banyak klasifikasi yang telah dibuat beberapa ahli karbonat, dan ini sangat umum digunakan dalam industri perminyakan. Apabila dilihat dari lokasi pembentukannya, lingkungan deposit batuan karbonat dapat diilustrasikan seperti pada Gambar-1, yang secara umum terbagi menjadi 3 (tiga) daerah, yakni shelf, slope, dan basin. Arah dan pengembangan lateral pada beberapa depositional environments dapat diprediksi dengan baik. Pengalaman mengatakan beberapa reservoir dapat ditemukan berdasarkan analisis detail mengenai lingkungan pengendapan ini. Masing-masing lingkungan pengendapan memiliki ciri khas pada tekstur, organic matters, butiran dan material, dan lain-lain. Hal ini antara lain karena pengaruh kekuatan arus saat pengendapan, posisi kemiringan, dan kandungan oksigen dalam air. 
Dalam perkembangannya, limestone akan mengalami diagenesis apabila bereaksi dengan air (H2O) atau dengan unsur lain, misalnya magnesium. Proses ini dikenal sebagai proses Lithification dan Dolomitization. Litifikasi terjadi apabila kalsium karbonat berekasi dengan karbon dioksida, CO2, (yang terlarut dalam air) membentuk carbonic acid (H2CO3) yang akan mengubah kalsium karbonat (CaCO3) menjadi kalsium bikarbonat, Ca(HCO3)2. Kalsium bikarbonat ini sangat mudah larut dalam air dibandingkan dengan kalsium karbonat. Pembentukan kristal CaCO3 maupun pelarutannya sangat tergantung dari kondisi dalam larutan air. Faktor yang paling mempengaruhi adalah tingkat keasaman (pH)-nya. Sedikit perubahan pada pH (yang juga akan mengubah potensi oksidasi-reduksi) akan menyebabkan kalsium karbonat mengendap atau melarut. Proses (reaksi) ini akan mempengaruhi besaran porositas dan permeabilitas batuan karbonat. Seperti halnya batuan pasir, kedua parameter ini dikontrol oleh arus dan gelombang pada saat pengendapan awal (original depositioinal environments), namun pada perkembangannya akan sangat cepat berubah karena adanya proses diagenesis kalsium karbonat sehingga membentuk secondary crystalline calcite yang akan menghancurkan porositas batuan. Di lain pihak, impermeable lime mud seringkali berubah menjadi kristal-kristal dolomit yang memiliki permeabilitas yang sangat bagus. Adapun dolomitisasi adalah perubahan limestone secara parsial maupun keseluruhan menjadi dolomit. Dolomit mempunyai komposisi CaMg(CO3) 2 dan secara kristalografi serupa dengan kalsit, namun lebih besar densitasnya, sukar larut dalam air, dan lebih mudah patah (brittle). Secara umum, dolomit lebih porous dan permeable dibandingkan limestone.
Perbedaan batuan karbonat dengan batuan pasir terutama adalah pada tipe pori-pori batuannya. Oleh karena batuan karbonat sangat soluble dan brittle, maka batuan ini seringkali memiliki porositas yang sangat besar, yang dikenal dengan “channels” atau “vugs”. Karena sifat repuhnya (brittle), maka pada batuan karbonat sering dijumpai rekahan-rekahan (fractures). Dengan demikian, batuan karbonat hampir selalu, namun tidak berarti selamanya, memiliki apa yang disebut “secondary porosity” yang mungkin lebih besar dari porositas awalnya (interstitial atau matrix porosity). Rekahan-rekahan ini barangkali hanya menyokong sedikit pada besaran porositas, namun sangat berarti dalam memperbesar permeabilitas. Parameter terakhir ini sangat mempengaruhi aliran fluida di dalam reservoir. Choquette dan Pray mengklasifikasikan pori-pori batuan karbonat kedalam 15 (limabelas) pore types, dan beberapa di antaranya  sering digunakan dalam industri perminyakan, seperti: moldic, fracture, channel, vug, dan cavern.
Fracture porosity dapat terjadi pada batuan pasir maupun karbonat, atau bahkan pada batuan vulkanik (basement). Pada batuan karbonat, apabila batuan ini terlipat atau terpatah (folded atau faulted) maka akan terbentuk rekahan-rekahan sepanjang bidang datarnya. Rekahan ini akan sangat tergantung dari posisi tarikan atau tekanan (compressional or tensional stress environments) yang ada. Apabila terjadi pada daerah kompresi, biasanya berada sepanjang patahan (faults) dan pelipatan yang sangat tajam (sharp folds), maka rekahan yang terjadi akan sangat rapat. Hal ini tidak akan berpengaruh banyak pada besaran porositas dan permeabilitas. Sehingga, reservoir minyak pada daerah ini bisa jadi tidak komersial. Namun sebaliknya, apabila patahan atau pelipatan terjadi pada daerah tarikan (tension) maka akan menghasilkan rekahan-rekahan yang sangat potensial menjadi reservoir minyak yang besar. Daerah seperti ini biasanya terjadi pada suatu pelipatan antiklinal, dimana rekahan tensional akan tegak lurus dengan lapisan, baik parallel maupun tegak lurus dengan arah pelipatan.
Rekahan umumnya mempunyai volume lebih kecil dari 1% dari volume batuan, sementara matrik batuan mungkin memiliki porositas 5 – 10%. Dengan demikian rekahan lebih mempengaruhi besaran permeabilitas dari pada porositas batuan. Sebagai gambaran, permeabilitas suatu matrik batuan tanpa rekahan mungkin hanya sekitar 0.01 darcy, dan permeabilitas pada rekahan selebar 0.1 mm bisa mencapai 833 darcy4).
Hal yang menentukan/membedakan karak-teristik batuan karbonat adalah urutan pengendapan (sedimentary sequence) yang sangat erat hubungannya dengan lingkungan pengendapan dan energi kinetiknya pada saat pengendapan5). Selanjutnya, perkembangan carbonate sequences sangat dikontrol oleh evolusi dari sedimentary basin. Lingkungan pengendapan akan memiliki perkembangan ke arah lateral dan vertical pada ruang dan waktu tertentu yang menghasilkan suatu tubuh batuan sedimen tertentu.  Dengan demikian, mengenali geometri suatu tubuh batuan karbonat dapat merekonstruksi evolusi basin (baik dalam kondisi statik maupun dinamik). Secara umum skematik diagram alir dalam kajian carbonate deposits ditunjukkan pada Tabel-1. Kajian ini didasarkan pada pembandingan karakteristik endapan terhadap keseluruhan sedimentary sequence. Pendekatan pertama, mengidentifikasi lingkungan pengendapan. Selanjutnya, menghubungkan antara endapan dan evolusi dari kondisi geologi pada saat itu. Pendekatan ini membandingkan batuan sedimen dan kondisi basinnya terhadap lingkungan terkini (modern environments) dan proses-proses yang menyertainya. Hasil akhir kajian ini adalah sebuah rekonstruksi  berupa “block diagram” yang menggam-barkan lingkungan pengendapan, seperti ditunjukkan pada Gambar-1.
Berdasarkan kekhasan karakterstik batuan karbonat tersebut, yang selanjutnya berpotensi sebagai reservoir migas, maka dalam mengembangkan suatu lapangan (field development) semacam ini  memerlukan pengelolaan reservoir (reservoir management) dengan perhatian dan pendekatan yang khusus.  Berbeda dengan reservoir batuan pasir, heterogintas karakter reservoir karbonat bisa sangat kompleks. Bukan saja karena proses dan lingkungan pembentukannya yang sangat berbeda, namun juga adanya kemungkinan perkembangan yang jauh dari kondisi origin-nya karena proses diagenesis (litifikasi, dolomitisasi) dan perekahan yang diakibatkan oleh adanya patahan maupun pelipatan.
Dari sisi reservoir management, kehati-hatian dalam menyusun plan of development (POD) maupun plan of further development (POFD) haruslah berangkat dari analisis geologi dan melibatkan reservoir engineering’s sense yang terintegrasi dalam merekonstruksi depositional environments

METODA YANG DIUSULKAN
Dalam membuat rekonstruksi lingkungan pengendapan batuan karbonat, sebagai awal dari kajian yang dilakukan, pertama adalah menganalisis sifat fisik batuan (petrophysical analysis), seperti porositas, permebilitas horizontal dan vertikal, densitas batuan, kurva tekanan kapiler, dan lain-lain. Kedua, melakukan analisis petrographic yang akan memberikan data lebih detail lagi mengenai jaringan pori, tekstur, komposisi kimia, mineral, dan lain-lain untuk dapat memperkira-kan proses-proses diagenesis  yang terjadi. Hasil-hasil ini akan diintegrasikan dengan hasil interpretasi data seismik, data logging, PVT, dan data sumuran lainnya (seperti: tekanan, dan produktivitas). Untuk selanjutnya, membuat model geologi, model reservoir, dan akhirnya dapat menentukan scenario produksi. Proses kerja (workflow) dari kajian ini dapat dilihat pada Gambar-2.
Dari aspek reservoir management, di antara tahapan managemen yang ada (Gambar-3), hal yang terpenting adalah pada proses perencanaan dan penyusunan strategi sebagai langkah awal untuk menentukan kerja berikutnya. Pada tahap ini segala faktor yang berhubungan dengan karakteristik yang khas pada reservoir karbonat harus diakomodasi dan dikaji secara detail dengan mengantisipasi berbagai kemungkinan yang ada. Dengan simulasi reservoir, beberapa skenario produksi dapat dibuat dengan mempertimbangkan beberapa faktor tadi. Selanjutnya, penyiapan fasilitas produksi, baik dari segi desain maupun implementasinya harus mengikuti kajian reservoir yang telah dibuat. Perubahan data-baru harus selalu diinformasikan dan di-update untuk dapat segera merevisi hasil simulasi. Adalah bukan hal yang aneh apabila realsasi produksi yang ada ternyata tidak sesuai dengan prediksi hasil simulasi reservoir. Apabila hal ini terjadi, revisi strategi pengembangan lapangan harus segera dilakukan. Berikut adalah suatu contoh kasus yang terjadi pada Struktur Sopa.

STUDI KASUS: LAPANGAN SOPA

Lapangan Sopa ditemukan melalui sumur eksplorasi SPA-01 pada bulan November 1997 dengan laju produksi awal 1085 BOPD, 0.79 MMScfd gas, dan kadar air yang sangat rendah. Reservoir terletak pada Formasi Baturaja (BRF) yang merupakan batuan karbonat berumur Meosen pada kedalaman puncak sekitar –2200 mbpl. Tekanan awal reservoir adalah 3305 psig dan temperatur 295 oF. Reservoir dalam keadaan undersaturated dengan tekanan gelembung (bubble point pressure) 2525 psig. Reservoir ini berkembang sebagai perangkap stratigrafi pada prograding clastic reef dengan lingkungan pengendapan diperkirakan pada laut dangkal (pada daerah slope). Trap ini diidentifikasi berdasarkan pemelajaran data seismic 3D yang dikombinasikan dengan hasil analisis data logging. Dari data log dinterpretasikan bahwa reservoir terbagi menjadi 3 (tiga) zona yang dibatasi oleh shale breaks di beberapa tempat. Ketiga zona ini memiliki distribusi dan harga prorositas yang berbeda. Pada zona paling bawah dan tengah, yang diindikasikan merupakan platform batuan karbonat memiliki porositas yang sangat ketat. Sedangkan zona teratas merupakan reservoir minyak yang selama ini diproduksikan dengan porositas (matriks) berkisar antara 5-20 % dan permebailitas bervariasi dari 0.1 sampai 500 millidarcy.
Dalam rencana awal pengembangan lapangan (POD) telah ditargetkan produksi dari struktur ini hingga mencapai lebih dari 40.000 BOPD dari 55 sumur produksi dengan lokasi seperti yang disajikan pada Gambar-4. Asumsi yang digunakan adalah karena produksi dari dua sumur pertama merupakan sembur alam dengan laju total mencapai 3000an BOPD. Optimisme ini menyebabkan Struktur Sopa dijadikan lapangan “primadona” OEP Prabumulih. Sebagai primadona tentunya ia mendapat perlakuan khusus, salah satunya adalah adanya program speed-up POD. Artinya, selain pembuatan POD yang dipercepat, juga jadwal pemboran dan pembangunan fasilitas produksi mendapat prioritas utama.
Seperti telah diuraikan di muka, bahwa karakteristik batuan karbonat memiliki perilaku yang unik. Hal ini ditunjukkan oleh perkembangan produksi Struktur Sopa yang tidak menggembirakan. Pada saat itu, identifikasi masalah telah dilakukan. Selanjutnya segera disusun rencana baru untuk merevisi strategi yang lama seperti dalam Tabel-2.
Keterpurukan produksi pada saat itu, berdasarkan  kajian simulasi reservoir yang terbaru, dengan mengakomodasi hasil interpretasi seismik 3D dan data 12 sumur produksi sampai dengan bulan Juni 2000, salah satunya disebabkan reservoir ini memiliki drive mechanism hanya dari solution gas. Hal ini didukung oleh hasil penyelarasan data tekanan dan data produksi serta karakteristik fluidanya. Produksi yang telah terlanjur ditargetkan besar-besar telah menyebabkan tekanan reservoir turun secara drastis. Dari data tekanan pada saat itu diketahui bahwa tekanan reservoir telah berada jauh di bawah tekanan bubble point. Artinya, secondary gas cap diperkirakan sudah terbentuk sehingga, ini juga terbukti dari data produksi, GOR (gas oil ratio) makin meningkat. Dari kajian ini diperkirakan reservoir hanya akan bertahan dalam 2-3 tahun dengan primary recovery sekitar 10 % dari total OOIP sebesar 108 MMSTB. Tekanan yang telah jauh di bawah bubble point pressure memerlukan usaha untuk mengembalikan (mempertahankan) kepada kondisi tekanan reservoir semula (pressure maintenance) sesegera mungkin. Berdasarkan studi tersebut diperkirakan akan didapat tambahan perolehan minyak hingga 28 % dari OOIP apabila dilakukan injeksi air sebanyak 40.000 BWPD melalui 6 sumur injeksi.
Secara garis besar, perbedaan antara kajian awal dan yang terbaru dapat dilihat pada Tabel-3.

DISKUSI

Kekhasan karakteristik batuan karbonat memberikan kepada kita pelajaran yang tidak hentinya untuk selalu memperhatikan perilakunya dalam rangka menyusun rencana dan implementasi reservoir managemant yang baik.  Tahap monitoring dan evaluasi menjadi sangat penting, setelah tahap perencanaan dan implementasi, mengingat sifat heterogitas dari reservoir karbonat lebih kompleks dari batuan reservoir lainnya. Proses diagenesis dan perekahan akibat patahan dan pelipatan akan mempengaruhi besaran porositas dan permeabilitas sebagai faktor penting dalam penentuan cadangan migas, pola aliran fluida reservoirnya, dan kemampuan produksinya. Hal ini juga dapat mengakibatkan reservoir seakan-akan terpisah-pisah (compartmentalize). Phenomena ini dapat dibuktikan dengan survey tekanan, analisis tracer, dan data produksi.
Studi kasus pada Lapangan Sopa menunjukkan pentingnya kerja tim (team work) antar geophysicists, geologists, dan petroleum enginners dalam membuat perencanaan pengembangan suatu lapangan (POD).  Kerja tim ini juga didukung oleh kemauan management untuk merevisi hal yang sudah menjadi komitmen sejak awal, seperti: target produksi; lokasi pemboran; penyediaan barang; fasilitas produksi; dan lain-lain.
Dari rangkuman pada Tabel-2 telah diambil keputusan bahwa pembangunan fasilitas injeksi menjadi prioritas utama dalam pengembangan lapangan selanjutnya. Hal ini merupakan langkah penyelamatan kondisi tekanan reservoir yang sudah berada di bawah titk gelembung, yang umum dikenal sebagai pressure maintenance. Dengan menginjeksikan air ke dalam reservoir diharapkan tekanan resrvoir akan naik kembali dan minyak akan terproduksikan lebih lama sehingga perolehannya (recovery factor, RF) bertambah. Apabila hal ini terlambat dilakukan, walaupun telah dilakukan penutupan sumur, gas akan tetap keluar sebagai gelembung dan membentuk secondary gas cap. Kalau hal ini terjadi, sekian juta barel minyak yang semula diprediksikan dapat terangkat ke permukaan akan menjadi impian kosong.

KESIMPULAN DAN SARAN

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa:
1.  Rersevoir karbonat memiliki karakteristik yang unik (khas) jika dibandingkan dengan reservoir lainnya (batuan pasir), sehingga memerlukan penanganan (management) reservoir yang khas pula.
2.  Merekonstruksi lingkungan pengendapan merupakan kajian yang berguna untuk memperkirakan karakteristik dan potensi reservoir karbonat.
3.  Studi kasus pada Lapangan Sopa membuktikan pentingnya kerja tim baik antar engineers dan dukungan management dalam tahapan perencanaan dan penentuan strategi, implementasi, monitoring dan evaluasi, serta revisi atas perencanaan yang telah dibuat.
4.  “Penghargaan” terhadap hasil studi simulasi reservoir yang terus di-update dengan adanya data baru merupakan langkah yang baik pada proses reservoir management.
5.  Dari kesimpulan di atas disarankan bahwa: kajian karakteristik detailed reservoir yang dilanjutkan dengan studi simulasi reservoir, yang terus di-update secara berkala, sebaiknya merupakan tahapan yang disertakan dalam reservoir management untuk reservoir karbonat.

Acknowledgement




Penulis mengucapkan terimakasih kepada Management PERTAMINA OEP Prabumulih, khususnya kepada Bp. Kun Kurnely dan Bp. Suyono Adi, dan Budi Tamtomo atas ide, masukan, dan continuous support-nya dalam penulisan ini.

DAFTAR PUSTAKA

1.  Satter, A., and Thakur, G.C, Integrated Petroleum Reservoir Management: A Team Approach, PennWell Books, Tulsa, 1994.
2.  Thakur, G.C, and Satter, A., Integrated Waterflood Asset Management, PennWell Books, Tulsa, 1998.
3.  Dickey, P.A., Petroleum Development Geology, Third Edition, PennWell Books, Tulsa, 1986.
4.  Streltsova, T.D., Well Testing In Heterogeneous Formation, John Wiley & Sons, New York, 1988.
5.  Reeckmann, A., and Friedman, G.M,: Exploration for Carbonate Petroleum Reservoirs, John Wiley & Sons, New York, 1982.
***

PENGEMBANGAN KAWASAN PANTAI KAITANNYA DENGAN GEOMORFOLOGI


PENGEMBANGAN KAWASAN PANTAI KAITANNYA
DENGAN GEOMORFOLOGI

Oleh:
Prof. dott. Sampurno
(Departemen Geologi - ITB)



1.     PENDAHULUAN

1.1.         Wilayah pantai, seperti juga wilayah-wilayah lain di bumi, terbentuk oleh berbagai proses geologi yaitu proses endogen yang diprakarsai oleh proses yang terjadi dari dalam bumi, dan proses exogen yang dimotori oleh kegiatan dari luar bumi.
Proses endogen bermula dari gerak-gerak daari dalam bumi seperti gempa bumi, letusan gunungapi; proses tersebut membentuk benua, lautan, deretan pegunungan, dsb. Proses exogen diprakarsai oleh pancaran sinar matahari, kegiatan atmosfir tanah, erosi oleh air/angin/es, transport sediment, dan sedimentasi di berbagai tempat.

1.2.         Pemanasan global merupakan bagian dari aktivitas iklim dan cuaca secara global yang penyebabnya tidak mudah untuk diketahui dengan pasti antara lain oleh :
-          menaiknya intensitas radiasi matahari (?)
-          variasi dari perputaran bumi, dan berubahnya sumbu bumi (?)
-          faktor geologi : berkurangnya ketinggian daratan oleh berbagai sebab sehingga berkurangnya curah hujan, berkembangnya tudung es di ketinggian sehingga turut “memanaskan” bumi secara global
-          menaiknya jumlah karbon dioxida di udara oleh berbagai faktor; sebaliknya menurunnya karbon dioxida yang disertai dengan naiknya permukaan daratan ke elevasi yang lebih tinggi akan dapat menurunkan suhu bumi dan menimbulkan glasiasi
-          pergerakan benua ke arah wilayah ayang labil tinggi temperaturnya juga dapat menyebabkan melelehnya es.

1.3.         Selama masa Holosen hingga sekarang dikenal beberapa kali perubahan iklim global. Setelah  masa glasiasi selesai diikuti dengan menaiknya suhu udara kira-kira pada 8000 tahun yang lalu dan berjalan selama 3000 tahun; suhu udara diperkirakan 2,5o C di atas suhu sekarang.
Periode tersebut diikuti oleh periode glasiasi dari 5000 – 2000 tahun yang lalu, dengan penurunan muka laut jauh di bawah muka laut sekarang.
Dari periode 2000 tahun yang lalu hingga sekarang dapat dilacak kondisi iklim/cuaca dengan lebih baik karena adanya pencatatan pada waktu sejarah di berbagai tempat.
Tahun 1000 – 1200 merupakan periode hangat; tahun 1450 – 1850 udara sedikit mendingin dan terdapat perluasan sedikit dari zaman es.
Dari tahun 1880 – 2000 terdapat gejala kenaikan suhu udara.

1.4.         Wilayah pantai merupakan wilayah pertemuan antara daratan dan lautan. Perubahan-perubahan yang terjadi sebagai akibat proses endogen dan exogen akan dapat terlihat pada wilayah tersebut, baik perubahan dari geomorfologi, proses-proses erosi dan sedimentasi, jenis tanah dan batuan sedimen yang terbentuk, kondisi hidrogeologi, berbagai proses bencana alam, dan perubahan ekosistem maupun lingkungan manusia.

1.5.         Wilayah pantai yang umumnya datar, berbatasan dengan laut, banyak sungai, airtanah yang relatif dangkal, serta terkadang mengandung mineral ekonomis, berpandangan indah dan mempunyai terumbu karang tentu sangat menarik dan dapat mendukung berbagai pembangunan. Kota-kota, pelabuhan, pertanian dan perikanan, wisata bahari, kawasan industri, bahkan kadang-kadang penambangan mineral dan bahan bangunan dapat berkembang di wilayah pantai. Banyak kota besar, kota pelabuhan, kota perdagangan, dan ibu kota negara atau ibu kota daerah berada di sana.
Pemanasan global yang berakibat naiknya muka laut dengan demikian akan dapat menimbulkan dampak yang serius bagi wilayah pantai tersebut.

2.     JENIS-JENIS PANTAI
Bentuk-bentuk pantai ada berbagai macam sebagai akibat dari berbagai proses geologi yang membentuknya dan batuan serta struktur geologi yang mengendalikannya. Ada pantai yang berbentuk dataran yang landai baik yang sempit maupun yang lebar, atau pantai yang bertebing terjal dan berbatu-batu, dan berteluk-teluk. Berikut ini beberapa ulasan mengenai hal tersebut.

2.1.         Bentuk Dan Genesa Pantai
Johnson mengenali berbagai bentuk pantai antara lain :
1)     Pantai bertebing terjal dan berteluk-teluk (fyord) :
Pantai berbatasan langsung dengan kaki bukit/gunung atau dengan dataran yang sempit. Teluk-teluk berselingan dengan punggungan bukit dengan berbagai struktur geologi seperti struktur lipatan, patahan, komplex, atau gunungapi. Dasar laut umumnya terjal, langsung ke laut dalam. Gejala demikian terlihat di Dalmasia, Spanyol, Pasifik Selatan, dan mungkin juga di Indonesia bagian Timur. Hal tersebut disebabkan oleh tenggelamnya wilayah tersebut oleh genangan airlaut (submergence).

2)     Pantai berdataran yang luas dan panjang :
Pantai ini mempunyai ciri adanya dataran yang luas. Banyak yang lurus, dasar laut yang relatif dangkal dan merupakan hasil endapan sedimen dari daratan, dengan kemiringan kearah laut dalam secara gradual.
Kerja gelombang di pantai menghasilkan berbagai morfologi seperti pematang pantai (barrier bars) laguna (lagoon) dengan “tidal inlet”, dan delta
Banyak dari gejala tersebut di atas dibentuk karena munculnya dasar laut, ke permukaan.
Dalam perkembangannya, kedua jenis pantai tersebut dapat berelevasi ke berbagai  bentuk pantai.
Selain kedua jenis pantai tersebut, yang bentuk-bentuknya dipengaruhi oleh kondisi muka laut, maka terdapat pula bentuk-bentuk pantai yang lain :

3)     Delta, dataran aluvial, dan “Outwosh Plain”.
Delta merupakan dataran di muara sungai yang terbentuk sebagai akibat dari endapan sedimen di laut yang berasal dari sungai. Berbagai bentuk delta dikenal tergantung kepada kondisi morfologi sungai, morfologi dataran, arah gelombang laut, kedalaman laut, dsb.
Dataran Aluvial merupakan wilayah yang datar atau hampir datar yang terbentuk oleh endapan yang dibawa air. Beberapa jenis bentuk “dataran aluvial” antara lain :
a.     Kipas aluvial, berbentuk “kipas” dengan apex berada pada bagian hulu dan kakinya berada di bagian hilir. Umumnya berada pada perbatasan antara wilayah pegunungan/perbukitan dengan wilayah dataran. Kemiringan lereng bervariasi antara 0o – 30 o, makin ke hilir makin mendatar.
b.    Dataran sungai; merupakan dataran di dalam tubuh sungai yang terbentuk oleh sedimentasi (point bars). Endapan dapat berupa bongkah, kerakal, kerikil, pasir, lanau, danlempung.
c.     Dataran banjir; berupa dataran yang luas yang berada pada kiri kanan sungai yang terbentuk oleh sedimen akibat limpasan banjir sungai  tersebut. Umumnya berupa pasir, lanau, dan lumpur.
d.    Dataran pantai; suatu dataran di tepi pantai yang terbentuk oleh endapan akibat gelombang laut di saat kondisi pasang dan surut. Umumnya berupa bongkah, kerakal, dan pasir.
e.     Dataran rawa; merupakan dataran bekas rawa-rawa dekat pantai, terbentuk sebagai akibat dari kondisi surut muka laut atau naiknya permukaan daratan (emmergence). Terdiri dari tanah pasir halus, lumpur, dan lumpur/tanah organik, gambut.
Segala jenis endapan di wilayah dataran tersebut dia tas umumnya bersifat lepas, lunak, lembek, belulm tersemen kuat sehingga bersifat lolos air, mudah terkikis, mudah ambles khususnya yang bersifat lempung dan organik.



3.     BUDIDAYA DI WILAYAH PANTAI

3.1.         Daya Dukung Wilayah Pantai
Kawasan pantai umumnya merupakan wilayah yang merupakan koridor pembangunan yang diminati. Hal tersebut disebabkan karena wilayah tersebut mengandung banyak hal yang memberi kemudahan dan memberi daya dukung untuk pembangunan. Kemudahan dan daya dukung tersebut adalah :
1)      Wilayah pantai sebagian besar merupakan wilayah dataran dengan kemiringan lereng yang datar atau hampir datar, sehingga mudah dicapai dan banyak pembangunan dapat dilaksanakan.
2)      Berbatasan dengan laut sehingga di beberapa tempat dapat dikembangkan menjadi pelabuhan sehingga dapat terjalin komunikasi ke luar pulau, serta adanya wilayah penangkapan dan budidaya perikanan laut.
3)      Banyak sungai mengalir dan bermuara di wilayah pantai ini. Sungai dapat menjadi sumbu air tawar, dan muara sungai menjadi wilayah pelabuhan.
4)      Tanah di wilayah dataran pantai mempunyai tanah yang lunak, gembur, berpori sehingga dapat menjadi akifer air tanah yang baik dan dangkal dibandingkan dengan wilayah pegunungan. Tanah yang lunak dan gembur merupakan tanah yang relatif mudah digarap menjadi kawasan pertanian dan sawah.
5)      Wilayah pantai yang merupakan pertemuan antara daratan dan lautan pada umumnya mempunyai pemandangan yang indah dan mempesona, sehingga dapat berkembang menjadi daerah pariwisata bahari, lebih-lebih jika terdapat terumbu karang.
6)      Wilayah pantai merupakan berbagai ekosistem seperti wilayah hutan bakau, terumbu karang, laguna, serta gua-gua pada tebing terjal di pantai, muara sungai/delta, dan pantai landai berpasir.


3.2.         Budi Daya Wilayah Pantai
Kondisi wilayah pantai yang demikian menjadikan wilayah tersebut sering merupakan titik permukaan pengembangan wilayah selanjutnya. Banyak kota-kota tua di Dunia dan di Nusantara berawal dari wilayah pantai ini seperti Mesir, Babilonia, Sriwijaya, Sunda Kelapa, Semarang, dsb. Juga pulau-pulau kecil yang letaknya strategis dapat berkembang menjadi kawasan yang disegani seperti P. Malta dilaut Mediteran, P. Singapura, P. Hongkong, dsb.
Selanjutnya, atas berbagai pertimbangan ekonomi, pertahanan, perdagangan, administrasi pemerintaha, dll. Wilayah pantai dapat berkembang menjadi kota pelabuhan, ibu kota daerah/negara, kawasan permukiman, kawasan industri. Pusat listrik tenaga uap (PLTU), kawasan nelayan, pertanian, olah raga air dan bahari, dan kawasan pariwisata, bahkan karena kondisi geologi tertentu menjadi kawasan pertambangan. (Cilacap, Bangka/Biliton/Singkep, dsb.).
Jakarta yang terletak di wilayah pantai yang datar dan luas – menjadi ibu kota negara R.I. dengan pembangunan di wilayah pantai berupa pelabuhan, PLTU, kota pantai, pariwisata dan rekreasi pantai, gedung-gedung pemerintahan dan perdagangan, waduk-waduk pengendali banjir, permukiman dan tambak.
Kota lain seperti Semarang, Surabaya, Ujung Pandang juga terletak di dataran pantai dan juga berkembang menjadi kota besar bahkan kota metropolitan dengan berbagai fasilitasnya.
Kota Palembang, yang terletak di tepi sungai Musi, juga dapat mengalami dampak yangsama sebagai akibat dari kenaikan muka air laut secara global tersebut. Air pasang yang masuk ke dalam sungai Musi akan dapat menjadi banjir yang menggenangi wilayah endapan aluvial dan rawa-rawa di sekitarnya; perlu diingat pula bahwa di tepian sungai Musi di seberang kota Palembang terdapat kota pengolahan dan pelabuhan wilayah yang besar yaitu Plaju dan Sungai Gerong.

4.     DAMPAK KENAIKAN MUKA AIR LAUT
Kenaikan muka air laut secara global tentu saja akan banyak pengaruhnya di seluruh wilayah pesisir baik di Indonesia maupun di dunia. Indonesia sebagai negara kepulauan dan maritim tentu saja akan mengalami dampak yang luar biasa besarnya, tergantung kepada seberapa besar kenaikan tersebut. Berikut ini beberapa butir dampak yang mungkin terjadi yaitu dampak terhadap “geologi” dan dampak terhadap sosial, ekonomi.

4.1.         Dampak Terhadap Geologi
1)     Berkurangnya luas tanah dataran sebagai akibat dari invasi air laut terhadap daratan.
2)     Invasi air laut ke daratan menyebabkan terjadinya abrasi sepanjang tepi pantai.
3)     Banyak terumbu karang di pantai yang menjadi tenggelam lebih dalam di bawah muka laut.
4)     Abrasi pantai yang terjadi dapat diikuti oleh gejala longsoran sepanjang tebing pantai, dan menyebabkan banyak terjadi sedimentasi pula.
5)     Invasi muka laut ke arah daratan akan memperpendek aliran sungai dan amengakibatkan gradien sungai menjadi lebih besar: karena sungai menjadi lebih pendek; hal tersebut akan mengakibatkan sedimentasi yang besar di muara sungai masing-masing.
6)     Invasi air laut ke daratan akan mengakibatkan kenaikan muka airtanah tetapi sekaligus juga menyebabkan intrusi air laut lebih mengarah ke daratan.
7)     Secara keseluruhan kenaikan muka air laut sebagai akibat dari pemanasan global akan mengakibatkan perubahan terhadap peta daratan dunia dan tentu saja Indonesia serta kondisi geologi dan hidrogeologi wilayah pantai.

4.2.         Dampak Terhadap Sosial – Ekonomi
Dampak kenaikan muka laut selain mengakibatkan perubahan-perubahan kondisi geologi seperti tersebut di atas – yaitu perubahan letak garis pantai, menyempitnya dataran pantai, banyaknya kejadian longsoran tebing pantai, meluasnya intruai air asin ke arah darat, tenggelamnya terumbu karang, dsb. – tentu saja akan mempengaruhi ekosistem secara keseluruhan. Tidak luput pula mempengaruhi kepada kondisi dan pola pembangunan infra struktur yang menanjak kehidupan modern di masa datang. Seperti yang dikemukakan dalam bab terdahulu bahwa wilayah dataran pantai merupakan wilayah yang banyak mendukung pengembangan pembangunan, permukaan tanah yang datar atau hampir datar, tempatnya yang berbatasan dengan laut, banyak sungai mengalir, air tanah tawar yang relatif dangkal, kemudahan untuk dikerjakan, bahkan kadang-kadang mengandung mineral ekonomis, terumbu karang, serta pemandangan yang indah.
Wilayah yang demikian itu mendukung perkembangan banyak pembangunan dan menarik orang untuk memanfaatkan wilayah tersebut untuk berbagai pengembangan lingkungan binaan : berbagai kawasan permukiman, kawasan pertanian/sawah/dan perikanan, kawasan industri bahkan pertambangan, wisata pantai dan bahari, berbagai pendayagunaan laut dan pantai, serta berbagai sarana dan prasarana (pelabuhan, tenaga listrik, transportasi, dsb.).
Dengan terjadinya kenaikan muka laut maka dikhawatirkan terjadi infasi air laut terhadap segala infrastruktur danlingkungan binaan tersebut di atas. Tidak hanya itu, tetapi juga berbagai ekosistem yang ada di wilayah pantai tersebut akan terganggu dan berubah. Sangat diharapkan bahwa perubahan tersebut tidak terjadi terlalu mendadak tetapi berangsur sehingga perubahan tersebut dapat berjalan secara evolusi sehingga terjadi penyesuaian ekosistem secara wajar termasuk penyesuaian manusia terhadap perubahan tersebut.

5.     P E N U T U P
  1. Tercatat bahwa dari waktu ke waktu suhu udara di bumi dengan perlahan-lahan meningkat. Kemungkinan yang terjadi adalah naiknya muka laut disebabkan oleh melelehnya tudung es dan expansi dari air laut.
  2. Kenaikan muka laut diduga berkisar sekitar 0,3 m sampai 2 m sampai tahun 2100 (National Academy of Science, 1989).
  3. Kenaikan muka laut dalam jangka panjang akan menimbulkan dampak terhadap kondisi fisik – gologis seperti :
-          menyempitnya lahan dataran pantai
-          tenggelamnya terumbu karang
-          berubahnya wilayah rawa-rawa pantai, laguna, delta, dsb.
-          terjadinya abrasi tebing pantai secara lebih luas oleh gelombang laut
-          berubahnya gradien sungai yang menjadi lebih besar
-          meluasnya intrusi air asin ke arah daratan
-          menaiknya muka airtanah
-          berubahnya bentuk daratan/peta bumi.
  1. Hal-hal tersebut menyebabkan perubahan ekosistem pantai seperti wilayah hutan bakau, terumbu karang, laguna, gua-gua pada tebing terjal di pantai, ekosistem muara sungai/delta dan pantai landai berpasir.
  2. Kenaikan muka laut dan perubahan geofisik tersebut di wilayah dataran pantai menyebabkan terlandanya banyak bangunan, infrastruktur, serta kehidupan masyarakat di wilayah tersebut oleh invasi air laut. Kerugian ekonomi akan sangat besar untuk upaya penanggulangan, pemindahan, dan pembangunan baru.
  3. Indonesia sebagai negara kepulauan akan sangat menderita karenanya. Untuk mengantisipasi kejadian tersebut sangat perlu melakukan hal-hal berikut ini :
1)     memantau perubahan cuaca dan iklim global
2)     memantau dan mengevaluasi perubahan muka laut khususnya kenaikan muka laut
3)     memantau proses-proses geologi muda yang wilayah pantai seperti abrasi pantai, penurunan muka tanah, longsoran tebing pantai, pergerakan intrusi air asin
4)     pemetaan detail topografi wilayah pantai khususnya pada wilayah-wilayah strategis seperti kota-kota besar, kawasan industri, pelabuhan, dsb.

KERUSAKAN LINGKUNGAN

A.     PENDAHULUAN

Global warming saat ini sedang menjadi topik yang banyak dibicarakan oleh banyak orang. Lingkungan hidup sangatlah terkait dengan kehidupan masyarakat. Mereka saling berkesinambungan dan membutuhkan antara satu dengan yang lain seperti dua sisi mata uang akan tetapi, sekarang ini banyak ditemukan kerusakan lingkungan yang melanda bumi tercinta ditambah lagi dengan cuaca yang semakin ekstrim. Hal tersebut memicu terjadinya bencana yang dapat membahayakan kehidupan manusia seperti tanah longsor, banjir atau bahkan gempa bumi. Disadari ataupun tidak, Penyebab kerusakan-kerusakan tersebut sebagian besar karena ulah manusia sendiri.
Lingkungan hidup, menurut UU no. 23 tahun 1997, didefenisikan sebagai kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta mahkluk hidup. Dalam persoalan lingkungan hidup, manusia mempunyai peranan yang sangat penting. Karena pengelolaan lingkungan hidup itu sendiri pada akhirnya ditujukan buat keberlangsungan manusia di bumi ini.



Alam memang diciptakan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia bukan untuk dieksploitasi besar-besaran tanpa mengenal batas sehingga menyebabkan terjadinya kerusakan yang justru akan membahayakan kehidupan manusia. Oleh sebab itu, diperlukan berbagai langkah-langkah strategis untuk mengatasi beragam masalah ini.


B.      ISI
Kesadaran menumbuhkan cinta lingkungan perlu ditanamkan sejak dini karena kesadaran total setiap individu terhadap pelestarian lingkungan sangat perlu dilakukan. Hal ini bisa dilakukan dengan menyadari akibat dari kerusakan lingkungan bisa membuat ribuan nyawa melayang dikarenakan berbagai macam bencana yang tak bisa dielakkan lagi. Cinta akan lingkungan hendaknya jangan hanya dibuktikan dengan sebatas slogan saja, tetapi juga dengan implementasinya. Berbagai langkah pelestarian lingkungan bisa kita lakukan baik pelestarian tanah, udara, hutan maupun flora dan fauna yang ada di dalamnya.
Kerusakan Lingkungan Hidup  terjadi karena adanya tindakan yang menimbulkan perubahan langsung atau tidak langsung sifat fisik dan/atau hayati sehingga lingkungan hidup tidak berfungsi lagi dalam menunjang pembangunan berkelanjutan (KMNLH, 1998). Kerusakan lingkungan hidup terjadi di darat, udara, maupun di air. Kerusakan lingkungan hidup yang akan dibahas dalam Bab ini adalah meluasnya lahan kritis, erosi dan sedimentasi, serta kerusakan lingkungan pesisir dan laut.




Faktor penyebab kerusakan lingkungan hidup dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu Faktor Alam dan Faktor Manusia.

a. Kerusakan Lingkungan Hidup Faktor Alam
Bentuk bencana alam yang akhir-akhir ini banyak melanda Indonesia telah menimbulkan dampak rusaknya lingkungan hidup. Salah satunya adalah gelombang tsunami yang memporak-porandakan bumi Serambi Mekah dan Nias. Peristiwa alam lainnya yang berdampak pada kerusakan lingkungan hidup antara lain : Letusan gunung berapi, Gempa bumi, dan Angin topan. Peristiwa-peristiwa alam tersebut yang menimbulkan kerusakan pada lingkunga hidup.

b. Kerusakan Lingkungan Hidup Faktor Manusia
Manusia sebagai penguasa lingkungan hidup di bumi berperan besar dalam menentukan kelestarian lingkungan hidup. Namun sayang, seringkali apa yang dilakukan manusia tidak diimbangi dengan pemikiran akan masa depan kehidupan generasi berikutnya. Manusia merupakan salah satu kategori faktor yang menimbulakan kerusakan lingkungan hidup.
Sedangkan berikut adalah 5 topik lingkungan yang paling penting akhir-akhir ini :
1.Perubahan Iklim
Pemanasan global sudah menjadi perhatian para ahli selama berpuluh-puluh tahun, namun topik ini baru mendapat perhatian masyarakat luas setelah Al Gore mengemasnya dalam bentuk film berjudul "An Inconvenient Truth". Dari melelehnya es di kutub bumi, hingga perubahan cuaca yang mengancam perubahan ekosistem, merupakan bukti dari perubahan iklim. Para ahli sepakat bahwa manusia telah mempengaruhi perubahan iklim ini karena gaya hidupnya yang menyebabkan terbentuknya gas rumah kaca. Apa yang dapat kita lakukan ? Seberapa parahkah perubahan iklim yang telah terjadi ? Mengapa masih banyak orang yang berpendapat bahwa perubahan iklim tidak pernah ada ? Itu adalah segelintir pertanyaan yang perlu kita cari jawabannya bersama-sama.
2. Energi
Saat ini hampir semua orang membicarakan tentang energi. Energi terbarukan, energi biru, biofuel, batu-bara, cadangan energi, bensin, solar, dan masih banyak lagi. Cadangan sumber energi fosil yang semakin menipis telah membuat para ahli melakukan berbagai percobaan sebagai alternatif penggantinya. Apa yang dapat kita lakukan? Kalau masih belum punya jawaban, setidaknya cobalah untuk berhemat dan mengurangi ketergantungan pada satu jenis sumber energi.
3. Sampah
Dengan semakin menonjolnya masalah Perubahan Iklim dan Energi, masalah sampah jadi tersingkirkan. Perlu diingat bahwa masalah sampah adalah masalah yang sangat serius. Gaya hidup manusia yang serba instan, membuat tumpukan sampah semakin menggunung. Sungai dan danau dipenuhi oleh sampah. Tempat pembuangan akhir untuk sampah sudah bekerja melebihi kapasitasnya. Plastik pembungkus, piring dan gelas plastik, botol plastik, belum lagi sampah industri, menjadi simbol betapa krusialnya masalah ini.
4. Air
Semua makhluk hidup membutuhkan air. Air untuk minum, air untuk mandi, air untuk mencuci, air untuk irigasi, dan masih banyak lagi. Sekitar 60 % dari tubuh manusia adalah air. Agar tubuh kita daapt berfungsi dengan baik, kita membutuhkan setidaknya 2 liter air per hari. Kebutuhan ini kita penuhi dari makanan dan minuman, terutama dari air minum. Sayangnya, kebutuhan utama ini belum sepenuhnya dapat dinikmati oleh sebagian besar dari kita. Sebanyak 1,1 Milyar manusia di muka bumi ini, terutama yang tinggal di daerah tertinggal, belum terjangkau akan ketersediaan air bersih. Banyak solusi yang tersedia, beberapa sangat menjanjikan, tapi banyak juga yang masih perlu dikaji lebih dalam. Maka, berhematlah mulai sekarang. 



5. Ekosistem dan Spesies yang terancam punah
Laju kepunahan spesies sepanjang 150 tahun belakangan ini sangat memprihatinkan. Spesies mengalami evolusi dan punah secara alami sejak ratusan juta tahun yang lalu, tapi laju kepunahan belakangan ini jauh lebih tinggi dari laju kepunahan rata-rata pada skala evolusi planet Bumi. Laju kepunahan saat ini adalah 10 hingga 100 kali lipat laju kepunahan alami. Bila tingkat laju kepunahan berlanjut atau terus meningkat, jumlah spesies yang menjadi punah dalam dekade berikut bisa berjumlah jutaan. Sebagian besar orang hanya berpikir hanya spesies mamalia berukuran besar dan burung yang terancam kepunahan, tapi sebenarnya kestabilan seluruh ekosistem menjadi terganggu dengan punahnya spesies kunci pada salah satu rantai makanan. Kepunahan suatu spesies yang menjadi mangsa atau pemangsa dalam suatu ekosistem berdampak pada peningkatan atau penurunan jumlah populasi spesies lain. Begitu seterusnya, hingga semua spesies musnah dan ekosistem menjadi rusak dan tidak bisa kembali seperti semula.


C.      PENUTUP
Begitu pentingnya menjaga kelestarian hidup bagi kehidupan manusia. Karena kerusakannya akan menyababkan berbagai macam bencana yang dapat membuat ribuan nyawa melayang. Maka dari itu, berbagai usaha pelestarian hutan perlu mendapatkan perhatian oleh setiap individu. Jika setiap individu memiliki kesadaran masing-masing terhadap kelestarian alam, sedikit demi sedikit niscaya kerusakan alam bisa  dihindari.
Pelestarian lingkungan dapat dilakukan dengan hal-hal kecil seperti membuang sampah pada tempatnya,tidak menebang pohon sembarangan,tidak menciptakan polusi udara dan lain-lain.
Mari kita bersama selamatkan bumi dari kerusakan.


















D.     DAFTAR PUSTAKA
     Anonim.2011.Penyebab dan Dampak Kerusakan Lingkungan.
http://www.g-excess.com/4725/penyebab-dan-dampak-kerusakan-lingkungan/
Kusuma,Affandi.2009. Linkungan Hidup, Kerusakan Lingkungan, Pengertian, Kerusakan Lingkungan dan Pelestarian afand.abatasa.com/.../linkungan-hidup-kerusakan-lingkungan-
Didi.2009.Penyebab Kerusakan Lingkungan.
http://forum.cekinfo.com/showthread.php?t=1680

Anonim.2009. Pemanasan Global & Kerusakan Lingkungan http://id.shvoong.com/exact-sciences/biology/1864662-pemanasan-global-kerusakan-lingkungan/

Isiqomah,Fitri.2010. Langkah Strategis Mengatasi Permasalahan Kerusakan Lingkungan Hidup
http://fitriistiqomah.blog.uns.ac.id/2010/05/26/langkah-strategis-mengatasi-permasalahan-kerusakan-lingkungan-hidup/

Anonim.5 Topik Lingkungan yang Paling Penting http://sribangun.com/5_Topik_Lingkungan.html
 
© Bosan Kuliah All Rights Reserved